Pemanfaatan Beberapa Jenis Bioherbisida untuk Mengendalikan Gulma di Arboretum Fakultas Kehutanan Instiper Yogyakarta

Penulis

  • Elisabetha Deru Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan INSTIPER Yogyakarta, Indonesia
  • Karti Rahayu Kusumaningsih Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan INSTIPER Yogyakarta, Indonesia
  • Agus Prijono Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan INSTIPER Yogyakarta, Indonesia

Kata Kunci:

Bioherbisida, penurunan kerapatan gulma, mortalitas gulma, waktu mulai kematian gulma

Abstrak

Terdapat berbagai jenis tanaman yang mengandung senyawa yang dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida untuk mengendalikan gulma. Jenis- jenis tanaman tersebut adalah akasia (Acacia mangium.), ketapang (Terminalia catappa), pinus (Pinus merkusii), mahoni (Swietenia macrophylla). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan jumlah gulma di Arboretum Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Stiper Yogyakarta dan mengetahui efek interaksi antar jenis ekstrak bioherbisida yang digunakan dengan interval penyemprotan untuk pengendalian gulma, yang meliputi penurunan kerapatan gulma, angka kematian gulma dan kapan gulma  mulai mati. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan dua faktor.  perlakuan yaitu jenis ekstrak bioherbisida dan interval penyemprotan. Jenis ekstrak bioherbisida terdiri dari kontrol (tanpa bioherbisida), serbuk daun akasia, ketapang, pinus dan mahoni, dengan interval penyemprotan 3 dan 6 hari. Dari 2 faktor diperoleh 5x2 = 10 perlakuan, Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 30 sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varians dan uji tambahan LSD (Least Significant Difference). Parameter yang diamati dalam penelitian adalah jenis dan jumlah gulma sebelum aplikasi bioherbisida, laju penurunan kerapatan gulma, tingkat kematian gulma (%) dan waktu gulma mulai mati (hari) setelah aplikasi bio-herbisida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 jenis gulma di Arboretum Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Stiper Yogyakarta yaitu gulma Bermuda (Cynodon dactylon L.) dengan jumlah per  adalah sebanyak 42,63, gulma getih-getihan /revina malu (Rivina humilis) sebanyak 12,10, gulma legetan (Synedrella nodiflora) sebanyak 16,47 dan gulma ara sungsang/bayaman (Asystasia gangetica) sebanyak 47,40.Jenis bioherbisida berpengaruh nyata terhadap persentase penurunan kerapatan gulma dan mortalitas gulma. Jenis bioherbisida berupa ekstrak serbuk daun mahoni menghasilkan persentase penurunan kerapatan gulma dan mortalitas gulma yang lebih tinggi dibandingkan serbuk daun akasia, pinus, dan ketapang, yaitu masing-masing sebesar 46,81% dan 98,46%. Gulma yang diperlakukan dengan berbagai jenis bioherbisida mulai mengalami rata-rata kematian pada hari ke 3 setelah penyemprotan

Referensi

Bailey, K. L. (2014). The bioherbicide approach to weed control using plant pathogens. In Integrated Pest Management (pp. 245–266). Elsevier.

Cahyanti, L. D. (2015). Pemanfaatan Seresah Daun Bambu (Dendrocalamus asper) Sebagai Bioherbisida Pengendali Gulma yang Ramah Lingkungan. Gontor AGROTECH Science Journal, 2(1), 1–17.

Kurniawan, A., Yulianty, Y., & Nurcahyani, E. (2019). Uji Potensi Bioherbisida Ekstrak Daun Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq) Terhadap Pertumbuhan Gulma Maman Ungu (Cleome rutidosperma D.C.). Biosfer: Jurnal Tadris Biologi, 10(1), 39–46. https://doi.org/10.24042/biosfer.v10i1.4232

Kusumaningsih, K. R. (2021). Uji Efektivitas Beberapa Jenis Tanaman Berpotensi Bioherbisida untuk Mengendalikan Gulma Babadotan (Ageratum conyzoides): Effectivity Test of Several Plants with Bioherbicide Potential to Control Ageratum conyzoides Weeds. HUTAN TROPIKA, 16(2), 215–223.

Mirza, M. A., Sopialena, S., & Yuliati, R. (2020). Pengujian Efektivitas Bioherbisida Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa) Terhadap Pertumbuhan Gulma Rumut Teki (Cyperus rotundus L.). Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab, 3(1), 66–71.

Moenandir, J. (2010). Ilmu gulma. Universitas Brawijaya Press.

Noer, S., Pratiwi, R. D., Gresinta, E., Biologi, P., & Teknik, F. (2018). Penetapan kadar senyawa fitokimia (tanin, saponin dan flavonoid) sebagai kuersetin pada ekstrak daun inggu (Ruta angustifolia L.). Jurnal Eksakta, 18(1), 19–29.

Sari, V. I., & Jainal, R. (2020). Uji Efektivitas Ekstrak Babandotan (Ageratum Conyzoides) Sebagai Bioherbisida terhadap Perkecambahan Kacang Hijau (Vigna radiata). Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture), 4(1), 18–28.

Senjaya, Y. A., & Surakusumah, W. (2007). Potensi Ekstrak Daun Pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) Sebagai Bioherbisida Penghambat Perkecambahan Echinochloa colonum L. dan Amaranthus viridis.

Unduhan

Diterbitkan

2023-09-29

Cara Mengutip

Deru, E., Kusumaningsih, K. R., & Prijono, A. (2023). Pemanfaatan Beberapa Jenis Bioherbisida untuk Mengendalikan Gulma di Arboretum Fakultas Kehutanan Instiper Yogyakarta. AGROFORETECH, 1(3), 2138–2144. Diambil dari https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/789

Terbitan

Bagian

Kehutanan

Citation Check

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

1 2 3 4 5 6 > >>