AGROFORETECH https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM <p><strong>AGROFORETECH</strong> merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Institut Pertanian STIPER Yogyakarta yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbing dan penguji serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor AGROFORETECH. AGROFORETECH menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari lima Program Studi, yaitu <strong>Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, dan Prodi Kehutanan.</strong></p> <p>AGROFORETECH terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu bulan <strong>Maret, Juni, September, dan Desember<br /></strong></p> id-ID helmiafroda@gmail.com (Helmi Afroda, S.IP.,M.IP) helmiafroda@gmail.com (Helmi Afroda, S.IP.,M.IP) Tue, 29 Sep 2026 10:59:43 +0700 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Karakterisasi Morfologi dan Uji Daya Hasil Beberapa Genotip Mentimun Lalap (Cucumis sativus L.) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2726 <p>Mentimun merupakan tanaman merambat yang banyak dikembangkan secara luas di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkarakterisasi sifat morfologi tujuh genotip mentimun lalap serta membandingkan enam genotip calon varietas unggul dengan varietas pembanding yang telah dikembangkan. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan CV. Borneo Seed Indonesia, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) nonfaktorial yang terbagi kedalam empat ulangan dengan jumlah 24 tanaman pada setiap ulangan. Pengamatan ini mengealuasi sifat karakter morfologi kualitatif dan kuantitatif buah mentimun. Karakter kualitatif dianalisis berdasarkan Pedoman Pengamatan Umum (PPU) mentimun dengan acuan warna dari RHS <em>color chart</em>, sedangkan data karakter kuantitatif diolah dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% apabila terdapat perbedaan nyata antar genotip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua varietas memiliki warna daun hijau (<em>Greyish Olive Green</em>), pangkal buah berbentuk menumpul (<em>obtuse</em>), dan irisan melintang buah membulat (<em>rounded</em>). Genotip BCU-24 menunjukkan potensi hasil tertinggi dan paling mendekati varietas pembanding. Umur panen sebagian besar genotip tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding, kecuali genotip BCU-23 yang memiliki umur panen paling cepat.</p> <p><strong> </strong></p> Andhika Zainuri, Neny Andayani, Ryan Firman Syah Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2726 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Respon Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elaies Guineensis) terhadap Anomali Cuaca https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2730 <p>Fenomena <em> El Nino </em>dan <em>La Nina </em>adalah anomali cuaca yang bisa mengubah pola curah hujan sehingga berpotensi memengaruhi produktivitas kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak anomali cuaca terhadap curah hujan serta hubungan curah hujan dengan produktivitas kelapa sawit di PT. Kencana Amal Tani III. Penelitian menggunakan data sekunder periode 2015–2025 yang meliputi data suhu permukaan laut (SPL) atau <em>sea surface temperature </em>(SST), curah hujan, hari hujan, produksi tandan buah segar (TBS), berat janjang rata-rata (BJR), produktivitas, dan kejadian banjir. Analisis data menggunakan metode regresi linear sederhana dengan pendekatan <em>time lag</em> untuk mengetahui respon produktivitas terhadap perubahan curah hujan. Hasil analisis penelitian didapati bahwa <em>El Nino</em> menyebabkan penurunan curah hujan hingga 1.901 mm per tahun, sedangkan <em>La Nina</em> menyebabkan peningkatan curah hujan hingga 3.519 mm per tahun. Perubahan curah hujan tersebut berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit. Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan yang signifikan antara curah hujan dan produktivitas pada lag 0 (16 bulan) dengan nilai signifikansi 0,046 (p&lt;0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) meningkat dari 73,19% pada lag 0 menjadi 83,22% pada lag 1 dan 87,84% pada lag 2, yang menunjukkan bahwa pengaruh curah hujan terhadap produktivitas tidak terjadi pada tahun yang sama, tetapi semakin kuat setelah 20 bulan pasca kejadian anomali cuaca. Dengan demikian, perubahan curah hujan akibat anomali cuaca terbukti memengaruhi produktivitas kelapa sawit, sehingga informasi iklim perlu dimanfaatkan sebagai dasar dalam pengelolaan perkebunan untuk mengurangi risiko penurunan produksi.</p> Ricky Alfariky, Herry Wirianata, Betty Yuniasih Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2730 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Intensitas Penyinaran dan Volume Penyiraman terhadap Pertumbuhan Kelapa Sawit di Pre Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2733 <p>Kondisi lingkungan, khususnya ketersediaan air dan intensitas cahaya, sangat memengaruhi keberhasilan produksi bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery. Pengaturan kedua variabel ini sangat penting untuk mendukung pertumbuhan bibit yang optimal. Dalam studi pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery ini, kami berupaya mengetahui pengaruh volume penyiraman, intensitas cahaya, dan interaksi keduanya. Penelitian ini dilaksanakan di fasilitas KP-2 INSTIPER Yogyakarta menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah intensitas cahaya yang terdiri dari tiga taraf: sinar matahari penuh, naungan jaring 50%, dan naungan jaring 75%. Faktor kedua adalah volume penyiraman harian, yaitu 50, 100, atau 150 mL per polybag. Eksperimen ini menggunakan 27 unit percobaan dengan tiga ulangan untuk setiap kombinasi perlakuan. Parameter yang diukur meliputi bobot segar dan kering akar serta tajuk, kondisi iklim mikro, kandungan klorofil, luas daun, jumlah daun, diameter batang, dan tinggi tanaman. Analisis varians (ANOVA) digunakan sebagai dasar uji signifikansi, yang mencakup DMRT pada taraf 5%. Terkait karakteristik pertumbuhan, hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antara volume penyiraman dan intensitas cahaya. Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan kondisi iklim mikro, sedangkan volume penyiraman tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter lainnya. Pertumbuhan tinggi tanaman pada tingkat naungan 50% dan 75% lebih baik dibandingkan tanpa naungan. Pemberian naungan menciptakan kondisi iklim mikro yang mendukung pertumbuhan bibit pada tahap pre-nursery. Dengan demikian, pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery lebih dipengaruhi secara signifikan oleh intensitas cahaya dibandingkan dengan volume penyiraman.</p> Mario Syalomo Barimbing, Betti Yuniasih, Elisabeth Nanik Kristalisasi Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2733 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Epidemi Penyakit Busuk Pangkal Batang pada Perkebunan Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2737 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi gejala yang disebabkan oleh penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit dan mengamati tingkat keparahan gejala penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit yang mencakup gejala dari yang ringan sampai yang parah (tanaman yang tumbang). Penelitian ini dilaksanakan Di PT. Surya Agrolika Reksa, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2026. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling (ditentukan berdasarkan blok tanaman yang memiliki indikasi serangan penyakit), yang terdiri dari 3 blok dengan total sampel setiap blok sebanyak 400 pokok, sehingga seluruhnya diperlukan 400 pkk x 3 blok = 1.200 pkk. Dengan variabel penelitian utama yaitu Insidensi penyakit (%) dan Keparahan penyakit (%) serta variabel pendukung, yaitu: Umur tanaman, Jarak tanam, Sanitasi kebun dan Kondisi lingkungan (kelembapan). Sebagai faktor lain dalam penelitian ini adalah umur tanaman, jenis varietas dan luas areal. Hasil penelitian dianalisis dengan parameter Insidensi Penyakit (IP) dan Keparahan Penyakit. Hasil penelitian menunjukkan dimana tingkat serangan yang terjadi pada H9 mencapai 28% dengan tingkat serangan 14.12% dalam kategori sedang H2 menunjukkan dengan hasil serangan terendah pada tingkat serangan 9.25% dengan intensitas penyakit 18.25% dalam kategori ringan, gejala yang tampak di lapangan antara lain daun yang berubah menjadi kuning, pelepah yang terlihat menggantung, serta tanda-tanda serangan <em>Ganoderma</em> pada beberapa pohon yaitu dengan tumbuh jamur Ganoderma.</p> Gagas Amri Hafi, Achmad Himawan, Muhammad Fajar Sidiq Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2737 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Pupuk Kandang dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun Lalap (Cucumis sativus L.) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2745 <p>Mentimun lalap (<em>Cucumis sativus</em> L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitasnya, salah satunya melalui penerapan pemupukan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi antara berbagai jenis pupuk kandang dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan hasil tanaman mentimun lalap, mengevaluasi pengaruh masing-masing jenis pupuk kandang, dan menentukan dosis pupuk NPK yang paling efisien. Penelitian dilaksanakan di Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama Agustus hingga Oktober 2025. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3 × 3 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama berupa jenis pupuk kandang yang terdiri atas pupuk kandang ayam, kambing, dan sapi, sedangkan faktor kedua adalah dosis pupuk NPK 16:16:16, yaitu 10, 15, dan 20 g per tanaman. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf nyata 5%. Apabila diperoleh perbedaan yang nyata, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan's Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis pupuk kandang dan dosis pupuk NPK hanya ditemukan pada parameter tinggi tanaman. Pemberian berbagai jenis pupuk kandang tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan maupun hasil tanaman mentimun lalap. Sebaliknya, perbedaan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh nyata terhadap berat segar akar dan berat kering akar, tetapi tidak memengaruhi parameter pertumbuhan dan hasil lainnya secara signifikan. Berdasarkan hasil penelitian dan pertimbangan efisiensi penggunaan pupuk, dosis NPK 10 g per tanaman direkomendasikan untuk budidaya mentimun lalap pada media polibag karena mampu menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang relatif baik dengan penggunaan pupuk yang lebih efisien.</p> Dikky Govardo Brahmana, Setyastuti Soebroto, Ryan Firman Syah Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2745 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Kajian Produksi Kelapa Sawit (Elaeis Gueneensis Jacq) pada Variasi Relief: Dataran (Flat Land) dan Perbukitan (Hill Area) di PT Sentra Karya Manunggal https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2765 <p>Penelitian ini dilalukan pada bulan Agustus hingga bulan November 2025 yang dilaksanakan di PT Sentra Karya Manunggal. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan produksi tanaman kelapa sawit pada lahan datar dan lahan bukit Pada periode 2022 hingga 2025. Adapun metode yang di gunakan yaitu metode komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Penentuan blok penelitian diawali dengan melakukan survei di lokasi penelitian. Sampel diambil menggunakan metode<em> purposive sampling </em>pada satu blok lahan datar dan satu blok lahan bukit dengan data produksi tahun 2022 hingga 2025. Parameter yang diamati meliputi, peta lahan penelitian, luas lahan, populasi tanaman, jumlah janjang/ha/tahun, jumlah janjang/pokok/tahun, berat janjang rata-rata, produktivitas (ton/ha/tahun), produktivitas (kg/pokok/tahun), dan produksi (ton/tahun). Data dianalisis mengunakan <em>paired</em> t-test pada taraf 5%. Hasil menunjukan bahwa tingkat produksi (ton/tahun), produktivitas (ton/ha/tahun), dan jumlah janjang/ha/tahun pada lahan berbukit dan lahan datar tahun 2022-2025 menunjukan adanya fluktuasi dari tahun 2022 menurun hingga tahun 2023, naik kembali pada tahun 2024 dan 2025. Secara keseluruhan produksi di lahan berbukit lebih tinggi dibandingkan dengan lahan dataran, hasil ini disebabkan karna adanya perbedaan luas lahan dan populasi antara lahan dataran dan lahan berbukit. Adapun pada parameter produktivitas (kg/pokok/tahun) menunjukan bahwa di lahan datar lebih tinggi dibandingkan dengan lahan bukit, hal ini berkaitan dengan kemampuan pokok dalam menghasilkan tandan buah segar (TBS), dikarenakan kerapatan tanam di lahan bukit lebih tinggi di bandingkan lahan datar. Meskipun demikian, hasil analisis menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara lahan berbukit dan lahan dataran terhadap produksi (ton/tahun), produktivitas (ton/ha/tahun), jumlah janjang/ha/tahun, jumlah janjang/pokok/tahun dan berat janjang rata-rata. terhadap produksi kelapa sawit.</p> Khairil Alian, Hangger Gahara Mawandha, Valensi Kautsar Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2765 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Pemberian Ammonium Sulfat sebagai Adjuvan Herbisida Glifosat dan Selang Waktu Terjadinya Pencucian dalam Pengendalian Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2779 <p>Pada derah beriklim tropis cuacanya begitu dinamis dan memiliki curah hujan yang tinggi. Pada musim panas masih sering terjadi hujan yang tidak terduga, sehingga mengakibatkan kurang efektifnya dalam pengandalian gulma menggunakan herbisida glifosat dikarenakan tercuci oleh hujan. Penelitian telah dilakukan di Desa Lubuk Ramo, Kec. Kuantan Mudik, Kab. Kuantan Singingi, Riau, pada bulan Mei sampai Juni 2026. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang teridiri dari 2 faktor dan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang pertama adalah Pemberian ammonium sulfat dari pupuk ZA (Z) dengan 4 aras yaitu: Kosentrasi ammonium sulfat 0% (Z0), Kosentrasi ammonium sulfat 2% (Z1), Kosentrasi ammonium sulfat 3% (Z2), Kosentrasi ammonium sulfat 4% (Z3). Faktor keduanya adalah selang waktu pencucian (C) dengan 3 aras yaitu: Tidak ada pencucian (C0), Pencucian 2 jam setelah aplikasi (C1), Pencucian 4 jam setelah aplikasi (C2). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Apabila ada pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji <em>Duncan Multiple Range Test</em> (DMRT) dengan taraf yang sama. Analisis menggunakan aplikasi SPSS. Parameter yang di amati yaitu tingkat keracunan gulma pada hari ke-3, 6, 9, 12, 19, 26, 33, dan 40 setelah aplikasi. Hasil dari analisi sidikragam menunjukkan tidak terjadinya interaksi antara pemberian ammonium sulfat dengan selang waktu pencucian. Selang waktu pencucian berpengaruh nyata di setiap pengamatan sedangkan selang waktu pencucian perbengaruh nyata pada hari ke-3, 9 dan 12. Pencucian 2 jam setelah aplikasi dapat menurunkan efektifitas herbisida.</p> Al Iqwal, Abdul Mu'in, Ety Rosa Setyawati Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2779 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Volume Penyiraman pada Tanah Mineral dan Gambut terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2788 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara volume penyiraman dan pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di pembibitan utama, khususnya dengan membandingkan pengaruh tanah mineral (Regosol) dan tanah gambut. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dari Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Institut Pertanian STIPER Yogyakarta antara bulan November 2025 hingga Januari 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor: jenis tanah (Regosol atau tanah gambut) dan volume penyiraman (1,0; 1,5; atau 2,0 liter per bibit per hari). Total terdapat 42 unit percobaan, dengan tujuh ulangan untuk setiap kombinasi perlakuan. Parameter tanaman yang diukur meliputi pertambahan tinggi, jumlah daun, diameter batang, bobot segar dan kering tajuk serta akar, panjang akar, volume akar, luas daun, dan pH tanah. Data dianalisis menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang nyata antara jenis tanah dan volume penyiraman terhadap diameter batang dan luas daun. Diameter batang terbesar diperoleh pada penggunaan tanah Regosol dengan penyiraman 1 liter per bibit per hari, sedangkan luas daun terbesar diperoleh pada penggunaan tanah gambut dengan penyiraman 1,5 liter per bibit per hari. Bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, bobot kering akar, volume akar, dan pH tanah sangat dipengaruhi oleh jenis tanah, di mana tanah gambut umumnya memberikan hasil yang lebih baik. Pertumbuhan jumlah daun, diameter batang, dan pH tanah juga sangat dipengaruhi oleh volume penyiraman. Kesimpulan praktis untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pembibitan utama adalah dengan menyesuaikan volume penyiraman berdasarkan karakteristik media tanam yang digunakan.</p> Markus Wahyu Siahaan, Valensi Kautsar, Betti Yuniasih Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2788 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Dosis Pupuk Hayati dan Jenis Tanah terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2795 <p>Peningkatan kesuburan tanah serta dukungan terhadap pertumbuhan tanaman merupakan dua peran utama dari pupuk hayati. Akan tetapi, efektivitasnya dalam mendukung pertumbuhan tanaman sangat bergantung pada karakteristik jenis tanah yang dipakai sebagai media tanam. Untuk itu, penelitian ini dirancang guna mengungkap keterkaitan antara dosis pupuk hayati, jenis tanah, dan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase <em>main nursery</em>. Kegiatan penelitian ini berlangsung di kawasan KP2 milik Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, yang secara administratif masuk wilayah Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dalam kurun waktu April sampai Juli 2026, dengan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor. Faktor pertama yaitu dosis pupuk hayati Bioneensis (0 g/kontrol, 50 g, 100 g, 150 g), dan faktor kedua yaitu jenis tanah (latosol, regosol, grumusol). Parameter yang diamati dalam penelitian ini terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, berat segar tanaman, berat kering tanaman, berat kering akar, serta porositas dan pH tanah. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa pertumbuhan bibit kelapa sawit dipengaruhi secara nyata oleh dosis pupuk hayati maupun jenis tanah yang digunakan. Pemberian dosis 50 g pupuk hayati terbukti lebih efektif dibandingkan kontrol (0 g) dalam meningkatkan berat kering akar dan berat kering tanaman. Dibandingkan dengan tanah regosol, jenis tanah latosol dan grumusol memberikan dampak yang lebih positif terhadap beberapa parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit selama fase <em>main nursery</em>.</p> Rido Sopian Aldi Damanik, Enny Rahayu, Betti Yuniasih Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2795 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Macam Bahan Biosaka sebagai Elisitor Organik terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Pre Nursery) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2799 <h1>ABSTRAK</h1> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak jenis bahan dan kadar Biosaka sebagai elisitor organik terhadap pertumbuhan bibitan kelapa sawit (<em>Elaeis guineensisJacq.)</em> pada tahap <em>pre-nursery</em>, serta menganalisis kandungan Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium pada masing-masing formula Biosaka. Penelitian ini dilakukan di Kebun Penelitian dan Pendidikan (KP2) INSTIPER, yang terletak di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama 12 minggu, mulai 02 November 2025 sampai 02 Februari 2026. Penelitian ini menggunakan pengujian faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis bahan Biosaka yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu ekstrak Kirinyuh (<em>Chromolaena odorata L</em>.), Babadotan ( <em>Ageratum conyzoides L</em>.), dan Sembung Rambat (<em>Mikania micrantha Kunth</em>). Faktor kedua adalah kadar Biosaka yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu 0 ml/L (kontrol), 2 ml/L, 2,5 ml/L, dan 3 ml/L air. Kombinasi kedua faktor tersebut menghasilkan 12 jenis perlakuan dengan total 72 unit percobaan. Parameter pertumbuhan yang diamati mencakup tinggi tanaman, diameter pangkal batang, jumlah daun, panjang akar, luasan daun, dan berat biomassa tanaman. Data tersebut dianalisis dengan metode analisis varians (ANOVA) pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis bahan dan konsentrasi Biosaka belum berdampak signifikan terhadap parameter pertumbuhan benih kelapa sawit pada tahap <em>pre-nursery</em>. Konsentrasi terbaik 2,5 ml/L dibandingkan dengan konsentrasi lainnya, pada macam bahan berbeda, bahan Kirinyuh menujukkan hasil yang terbaik dibandingkan bahan lainnya, namun keunggulan konsentrasi dan bahan tersebut tidak nyata secara Statistik. Hasil analisi kandungan hara menunjukkan bahwa kadar N pada Biosaka berbahan Babadotan, Kirinyuh dan Sembung Rambat masing-masing sebesar 0,0107%, 0,0133%, dan 0,0110%; kadar P masing-masing sebesar 0,0060%, 0,0030%, dan 0,0013%; serta kadar K masing-masing sebesar 0,0152%, 0,0180, dan 0,0197%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variasi jenis bahan dan konsentrasi Biosaka yang diuji belum mampu secara nyata meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan bibit selama penelitian lebih dominan dipengaruhi oleh ketersedian unsur hara pada media tanam dibandingkan dengan aplikasi Biosaka.</p> Nasrul Razi, Sri Gunawan, Githa Noviana Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2799 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Bentuk Pupuk Organik (Padat dan Cair) dan Dosis Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan Bibit di Main-Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2800 <p>Penelitian ini berfokus pada pengaruh bentuk pupuk organik baik padat maupun cair serta dosis pupuk NPK terhadap perkembangan bibit kelapa sawit di <em>main-nursery.</em> Lokasi penelitian berpusat di kebun pendidikan dan penelitian (KP2), yang berada di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berlangsung dari bulan Desember 2025 sapai Maret 2026. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan percobaan faktorial yang diatur dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama berhubungan dengan bentuk pupuk organik yang tersusun dari 3 aras, yakni kontrol (tanpa penerapan pupuk organik), pupuk organik padat berbahan dasar kotoran kambing seberat 1.000 gram/polybag, dan pupuk organik cair (POC) dari urin kambing sebanyak 1,014 ml/polybag. Faktor kedua terkait pupuk NPK yang tersusun atas 4 aras, yakni 0, 5, 10, serta 15 gram/polybag. Setiap kombinasi perlakuan diulanggi sebanyak empat kali. informasi yang didapat dianalisis melalui analisis sidik ragam (ANOVA) dengan tingkatan signifikan 5%. Apabila terdapat perbandingan yang signifikan antara perlakuan, setelah itu dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkatan signifikan 5%. Tidak ada interaksi nyata antara bentuk pupuk organik dan dosis pupuk NPK pada semua parameter pekembangan bibit kelapa sawit di <em>main-nursery</em>. Bentuk pupuk organik baik padat maupun cair tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kontrol, tetapi pupuk organik padat memberikan pengaruh nyata terhadap pupuk organik cair (POC) pada parameter luas daun, berat segar tajuk, serta berat kering tajuk. Dosis NPK 5 gram sudah sanggup tingkatkan luas daun, volume akar, berat segar tajuk, berat segar akar, berat kering tajuk, dan pertambahan diameter batang, sedangkan dosis pupuk 10 gram sudah sanggup meningkatkan berat kering akar.</p> Aprido Purba, Achmad Himawan, Elisabeth Nanik Kristalisasi Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2800 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Konsentrasi dan Macam POC (Limbah Cair Tahu dan Tempe), Pengaruhnya pada Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2801 <p>Evaluasi terhadap respons pertumbuhan bibit kelapa sawit <em>main nursery</em> akibat aplikasi jenis dan konsentrasi POC berbahan limbah industri tahu dan tempe telah dilakukan di KP2 Kali Kuning, Sleman, Yogyakarta (Mei–Agustus 2025). Menggunakan skema faktorial dua faktor berbasis Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 ulangan, perlakuan terdiri atas variasi tingkat konsentrasi (0%, 5%, 10%, 15%) dan sumber limbah POC (tahu dan tempe). Evaluasi statistik memanfaatkan uji ANOVA pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) serta uji lanjut DMRT. Hasil analisis data menyimpulkan bahwa pemberian konsentrasi, jenis POC, maupun kombinasi interaksi keduanya tidak memberikan dampak yang berbeda nyata secara statistik terhadap seluruh parameter yang diukur.</p> M. Ivan Maulana, Valensi Kautsar, Sri Suryanti Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2801 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Analisis Pengaruh Variasi Curah Hujan Bulanan dan Perbedaan Topografi terhadap Produksi Kelapa Sawit Usia Tua di Perkebunan Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2804 <p>Curah hujan merupakan salah satu faktor iklim yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan produksi kelapa sawit, terutama dalam memenuhi kebutuhan air tanaman. Selain curah hujan, kondisi topografi lahan dapat mempengaruhi kondisi lingkungan tumbuh dan produksi kelapa sawit, khususnya pada tanaman usia tua. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi curah hujan dan perbedaan topografi terhadap produksi kelapa sawit usia tua. Penelitian ini dilaksanakan diperkebunan kelapa sawit yang terletak di Kabupaten Asahan, Kecamatan Aek Ledong, Sumatera Utara. Pengambilan sampel penelitian dilakukan pada maret hingga April 2026. Penelitian menggunakan metode survei lapangan dan pendukung pengelolaan kebun kelapa sawit dengan topografi datar dan bergelombang. Data diuji menggunakan uji analisis korelasi antara curah hujan dan produksi kelapa sawit, regresi linier sederhana melihat apakah curah hujan berpengaruh untuk 0-2 tahun kedepan, uji t membandingkan rerata pada topografi lahan datar dan bergelombang, dan regresi linier berganda apakah ada pengaruh produksi terhadap curah hujan dan topografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan curah hujan dengan produksi cenderung positif pada topografi datar dan negatif pada topografi bergelombang, namun hubungan keduanya tergolong lemah. Produksi rata-rata pada topografi datar dan topografi bergelombang tidak berbeda nyata. Regresi linier berganda menunjukkan antara faktor curah hujan dengan topografi terhadap produksi bahwa curah secara simultan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi Y=22,952 +0,00115X1−0,34X2. Hal ini menunjukkan bahwa variasi produksi kelapa sawit pada tanaman usia tua diduga lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain diluar curah hujan dan topografi.</p> Sukmawan Zidan Hartanto, Betti Yuniasih, Sri Manu Rochmiyati Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2804 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Peran Kontribusi BBC (Black Bunch Census) terhadap Ketepatan Perencanaan dan Pencapaian Target Produksi Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2806 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode Black Bunch Census (BBC) terhadap ketepatan perencanaan produksi dan pencapaian target produksi kelapa sawit, serta menganalisis pengaruh ketepatan perencanaan produksi terhadap pencapaian target produksi. Penelitian dilaksanakan di PT Perkebunan Nusantara IV Regional I Kebun/PKS Aek Nabara Selatan, Desa Perbaungan, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, pada tanggal 8–13 Juni 2026, menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan asosiatif berbasis data sekunder. Sampel tanaman mengacu pada systematic sampling sebesar 7% dari populasi pada Blok V28, V29, dan V30 sesuai SOP sensus BBC perusahaan sehingga diperoleh 552 pokok kelapa sawit, serta data historis perusahaan periode 2021–2025 sebanyak 30 data pengamatan. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson, regresi linear sederhana, uji t, dan koefisien determinasi (R²) berbantuan IBM SPSS Statistics. Hasil temuan menunjukkan Kontribusi BBC terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Ketepatan Perencanaan Produksi (r = 0,934; R² = 87,2%; Sig. = 0,000) serta Pencapaian Target Produksi (r = 0,916; R² = 83,8%; Sig. = 0,000). Ketepatan Perencanaan Produksi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pencapaian Target Produksi (r = 0,996; R² = 99,3%; Sig. = 0,000). Dengan demikian, semakin baik pelaksanaan BBC, semakin tepat perencanaan produksi yang disusun, dan semakin besar peluang perusahaan mencapai target produksi kelapa sawit yang telah ditetapkan.</p> Cyintia Febriani Sinaga, Githa Noviana, Idum Satya Santi Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2806 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Dosis POC Kulit Buah Pisang dan Pupuk P terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Buncis (Phaseolus Vulgaris L) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2805 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pupuk organic cair (POC) dari limbah kulit pisang serta pupuk fosfat SP-36 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis (<em>Phaseolus Vulgaris L</em>.). Penelitian dilakukan di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta menggunakan Rancangan 3 x 3 faktorial disusun dalam rancangan acak lengkap dengan ulangan tiga kali. Faktor pertama adalah dosis&nbsp; POC kulit pisang, yaitu 60 ml, 80 ml, dan 100 ml per tanaman, Faktor kedua adalah dosis SP-36, yaitu 6 g,8 g, dan 10 g per tanaman. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan dan hasil tanaman buncis, hasil penelitian menunjukan adanya interaksi nyata antara pemberian POC Kulit Pisang dan SP-36, kombinasi POC 80 ml/tanaman dan SP-36 8 g/tanaman memberikan berat buah tertinggi, pemberian dosis POC 80 ml/tanaman meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada parameter seperti (tinggi tanaman,berat tanaman dan kehijauan daun), serta pemberian SP-36 dengan dosis 8 g/tanaman terbukti paling tinggi meningkatkan pertumbuhan buncis</p> <p>&nbsp;</p> Diyan Sokowati, Setyastuti Purwanti Soebroto, Valensi Kautsar Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2805 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Efektivitas Pemberian Kompos Limbah Pasar dan Pupuk Majemuk NPK 16:16:16 terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2811 <p>Sebagai komoditas perkebunan strategis bagi perekonomian Indonesia, kelapa sawit menuntut ketersediaan bibit sehat sejak fase pembibitan sebagai penentu keberhasilan budidaya selanjutnya. Pertumbuhan bibit pada tahap <em>main nursery</em> sangat dipengaruhi oleh ketersediaan hara, baik yang bersumber dari bahan organik seperti kompos limbah pasar maupun pupuk anorganik seperti NPK 16:16:16. Riset ini bertujuan untuk menguji efektivitas pemberian kompos limbah pasar dan pupuk majemuk NPK 16:16:16 baik secara tunggal maupun kombinasi terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase <em>main nursery</em>. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama tiga bulan di Desa Sumber Harapan, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor perlakuan, yakni dosis kompos limbah pasar (0, 100, 250, dan 300 gram per polybag) dan dosis pupuk NPK 16:16:16 (0, 5, 7,5, dan 10 gram per polybag), sehingga terbentuk 16 kombinasi perlakuan dengan empat kali ulangan. Parameter yang diamati mencakup tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot segar dan kering tajuk, serta panjang, volume, bobot segar dan kering akar. Hasil penelitian mengungkap bahwa baik interaksi kedua faktor maupun pengaruh masing-masing faktor secara terpisah tidak menunjukkan perbedaan nyata pada seluruh parameter yang diamati. Kondisi tersebut diduga terkait dengan kesuburan tanah aluvial yang dipakai sebagai media tanam, yang memiliki pH optimal pada kisaran 6,1–6,2 sehingga kebutuhan hara dasar bibit telah tercukupi dari tanah itu sendiri. Meskipun demikian, pertumbuhan bibit pada seluruh perlakuan tetap melampaui standar baku mutu pertumbuhan bibit kelapa sawit usia tiga sampai enam bulan yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit.</p> Nazwan Bukhori Situmorang, Achmad Himawan, Galang Indra Jaya Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2811 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Dosis Bahan Organik dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Edamame pada Tanah Pasir Pantai https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2803 <p>Penelitian ini dilakukan untukmenganalisis respon pertumbuhan juga hasil tanaman edamame yang ditanam dengan tanah pasir pantai terhadap pemberian bahan organik dan pupuk NPK pada berbagagi dosis, termasuk interaksi antara perlakuan keduanya.. Kegiatan penelitian dilakukan di Desa Tamanan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Mei–Juli 2026. Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial digunakan pada penelitian ini yang terdiri dari dua faktor, yaitu dosis bahan organik 0%, 25%, 33%, dan 50% volume serta pupuk NPK 0g, 15g, 30g, dan 45 g/tanaman. 16 kombinasi dengan perlakuan diulang 3 kali dan diperoleh 48 percobaan keseluruhan. Analisis data yang digunakan yaitu sidik ragam pada taraf 5% dan perlakuan yang berpengaruh nyata diuji lanjut dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi nyata antara bahan organik dan pupuk NPK pada seluruh parameter. Bahan organik memberikan pengaruh yang nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah polong isi, berat polong segar, berat segar tanaman, dan berat kering tanaman. Dosis bahan organik 50% memberikan hasil terbaik pada sebagian besar parameter. Pupuk NPK berpengaruh nyata pada jumlah daun dan jumlah polong isi, dengan dosis 45 g/tanaman menghasilkan nilai tertinggi pada kedua parameter tersebut. Parameter lainnya tidak menunjukkan pengaruh nyata dari pupuk NPK. Berdasarkan hasil penelitian, masing-masing faktor memberikan pengaruh sendiri pada keseluruhan parameter dan tidak terdapat interaksi antara kedua faktor tersebut.</p> Muhammad Rizqi Fatwa, Sri Manu Rohmiyati, Wiwin Dyah Ully Parwati Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2803 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Main Nursery terhadap Kombinasi Jenis dan Dosis Pupuk Majemuk https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2808 <p>Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji respons pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dalam merespons variasi jenis serta dosis pupuk majemuk pada fase main nursery. Kegiatan penelitian berlangsung pada Februari hingga Mei 2026 di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2), Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor perlakuan. Faktor pertama berupa tiga jenis pupuk majemuk, yaitu NPK 16:16:16, NPKMg 15:15:6:4 Mg, dan NPK TE 15:15:15 + Trace Elements, sedangkan faktor kedua berupa empat taraf dosis, yakni 0, 2,5, 5, dan 7,5 g/bibit. Kedua faktor yang diuji membentuk 12 kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan untuk setiap perlakuan yang diuji, sehingga total bibit yang digunakan sebanyak 36 bibit. Pengolahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan Pengujian statistik dilakukan melalui ANOVA dengan taraf nyata 5%, kemudian dilanjutkan menggunakan uji DMRT 5% apabila ditemukan pengaruh yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan antara jenis pupuk dan dosis yang diberikan tidak memberikan interaksi yang nyata terhadap seluruh indikator pertumbuhan yang menjadi objek pengamatan. Perbedaan jenis pupuk juga belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Sebaliknya, faktor dosis berpengaruh nyata terhadap luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, panjang akar, dan volume akar, tetapi tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, serta bobot kering akar. Secara umum, penggunaan dosis 2,5 g/bibit menghasilkan respons yang tidak berbeda nyata dibandingkan dosis 5 dan 7,5 g/bibit pada sebagian besar parameter pengamatan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dosis 2,5 g/bibit telah mampu menstimulasi pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase main nursery sehingga dapat menjadi salah satu dosis yang dipertimbangkan dalam pemupukan.</p> Latif Jogi Purba, Galang Indra Jaya, Yohana Theresia Maria Astuti Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2808 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Uji Efektivitas Pupuk Hayati (Mikoriza, Trichoderma, dan Bacillus sp.) terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Main-Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2812 <p>Penelitian ini bertujuan guna mengetahui pengaruh pemberian pupuk hayati (mikoriza, <em>Trichoderma</em>, <em>Bacillus</em> sp.) baik secara tunggal dan kombinasi serta perlakuan kontrol yang diberi NPK Terhadap pertumbuhan di <em>Main-nursery</em>. Dilakukan pada kebun KP2 Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, di bulan April sampai Juli 2026. Penelitian mempergunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, yang terbagi atas delapan perlakuan tunggal dan kombiansi, kontrol + NPK 10 g, mikoriza 35 g, <em>Trichoderma</em> 20 g, <em>Bacillus</em> sp. 25 ml, mikoriza 35 g + <em>Trichoderma</em> 20 g, mikoriza 35 g + <em>Bacillus</em> sp. 25 ml, <em>Trichoderma</em> 20 g + <em>Bacillus</em> sp. 25 ml, mikoriza 35 g + <em>Trichoderma</em> 20 g + <em>Bacillus</em> sp. 25 ml. Setiap perlakuan 4 ulangan, sehingga 8 x 4 = 32 unit percobaan. Data analisis mengadopsi analisis sidik ragam (Anova) taraf 5%, jika ada perberbedaan yang nyata maka lanjut pengujian <em>Duncan’s Multiple Range Test</em> (DMRT) taraf 5%. Pada kajian pemberian pupuk hayati (mikoriza, <em>Trichoderma</em>, dan <em>Bacillus</em> sp.), secara tunggal maupun kombinasi, memberikan pengaruhnya yang sama pada keseluruhan parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>Main-nursery</em>. Pemberian pupuk hayati (mikoriza, <em>Trichoderma</em>, dan <em>Bacillus</em> sp.) mempunyai pengaruhnya yang sama dengan kontrol yang diberi pupuk NPK 10 g pada seluruh parameter pertumbuhan di <em>Main-nursery</em>.</p> Wahyu Rokhiman, Achmad Himawan, Elisabeth Nanik Kristalisasi Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2812 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Pemberian Cocopeat dan Mikoriza di Tanah Regosol terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2813 <p>Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh dosis <em>cocopeat</em> dan mikoriza pada tanah regosol terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>main nursery</em>. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kebun pendidikan dan penelitian (KP4 Instiper) Jl. Nangka II, Maguwoharjo, Depok, Sleman Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 26 April 2026 sampai dengan tanggal&nbsp; 26 Juli 2026. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor prtama yaitu dosis <em>cocopeat</em> (C) terdiri dari 3 aras: <em>cocopeat</em> 25% (C1), <em>cocopeat</em> 50%(C2), <em>cocopeat</em> 0% (C3), dan factor ke dua mikoriza (M) yang terdiri dari 3 aras: 25g mikoriza (M1), 50g mikoriza (M2), 0g mikoriza (M3). Dari kedua faktor maka diperoleh 9 kombinasi perlakukan, setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap ulangan menggunakan 2 sampel tanaman sehingga jumlah tanaman yang diperlukan dalam penelitian ini sebanyak 9 x 3 x 2 = 54 tanaman. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam (Analysis Of Variance) pada jenjang nyata 5%. Apabalia terjadi pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji <em>Duncan’s Multiple Range Test </em>(DMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil analisis menunjukan tidak ada interaksi nyata antara dosis <em>cocopeat</em> dan mikoriza terhadap seluruh parameter yang diamati. Selain itu faktor dosis <em>cocopeat</em> memberikan pengaruh nyata pada parameter pertambahan tinggi tanaman dan pertambahan diameter batang. Selanjutnya faktor dosis mikoriza hanya memberikan pengaruh nyata pada parameter pertambahan panjang akar.</p> Muhamad Taufik Romadhoni, Abdul Mu'in, Alan Handru Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2813 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Intensitas Cahaya dan Frekuensi Penyiraman terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pre Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2818 <p>Pada pembibitan awal kelapa sawit, kecukupan cahaya dan air menjadi bagian dari kondisi tumbuh yang perlu dikelola karena keduanya berkaitan dengan aktivitas fisiologis bibit. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi hubungan antara &nbsp;perlakuan intensitas cahaya dan frekuensi penyiraman, sekaligus menilai pengaruh masing-masing faktor terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) fase pre nursery. Percobaan berlangsung pada Mei–Agustus 2026 di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2), Maguwoharjo, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rancangan yang digunakan adalah <em>Split Plot Design</em>. Petak utama berupa empat kondisi cahaya, yaitu tanpa naungan serta naungan 40%, 60%, dan 80%, sedangkan anak petak berupa interval pemberian air dua kali sehari, satu kali sehari, dua hari sekali, dan tiga hari sekali. Enam belas kombinasi perlakuan diulang empat kali sehingga jumlah bibit yang diamati sebanyak 64 tanaman. Data diuji dengan ANOVA pada taraf 5% dan, jika menunjukkan pengaruh nyata, dilanjutkan menggunakan DMRT 5%. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kedua faktor tidak berinteraksi nyata pada seluruh variabel pengamatan. Tingkat intensitas cahaya secara tunggal juga tidak menimbulkan perbedaan nyata. Pengaruh frekuensi penyiraman hanya terdeteksi pada jumlah daun, volume akar, dan berat kering akar, sedangkan variabel pertumbuhan lainnya tidak berbeda nyata.</p> Gerry Christian Sihombing, Ety Rosa Setyawati, Betti Yuniasih Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2818 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Penggunaan Zeba dan Frekuensi Penyiraman terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa (Elaeis guineansis Jacq.) Sawit di Pre-Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2819 <p>Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisis dampak pemberian dosis Zeba serta tingkat frekuensi penyiraman terhadap perkembangan bibit kelapa sawit pada fase <em>pre-nursery</em>. Kegiatan ini bertempat di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, mulai bulan April hingga Juli 2026. Menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, penelitian ini melibatkan dua faktor utama: dosis Zeba yang terdiri dari empat aras 0 gram (sebagai kontrol media tanah regosol), 5 gram, 10 gram, dan 15&nbsp; gram serta frekuensi penyiraman dengan empat aras (dua hari sekali, sehari sekali, dua kali sehari, dan tiga hari sekali). Total keseluruhan kombinasi perlakuan mencapai 16 macam, yang masing-masing diulang sebanyak tiga kali sehingga terkumpul 48 unit tanaman sampel. Seluruh data pengamatan selanjutnya diuji melalui analisis ragam (ANOVA) pada taraf nyata 5%, dan apabila terdapat perbedaan yang signifikan, dilanjutkan dengan uji <em>Duncan's Multiple Range Test</em> (DMRT). Berdasarkan hasil, penggunaan dosis Zeba sebanyak 10 gram paling baik untuk parameter jumlah&nbsp;helai&nbsp;daun,&nbsp;ukuran&nbsp;batang, berat&nbsp;basah akarnya&nbsp;dan berat&nbsp;basah bagian atas, serta berat kering&nbsp;akarnya&nbsp;dan berat kering&nbsp;bahagian atas, sementara faktor frekuensi penyiraman tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.</p> Danu Kurniawan, Githa Noviana , Neny Andayani Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2819 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Efektivitas Konsentrasi Herbisida terhadap Gulma Anak Sawit (Kentosan) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2822 <p class="s25"><span class="s12"><span class="bumpedFont15">Tujuan penelitian </span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">untuk melihat bagaimana pengaruh herbisida dan konsentrasi, serta interaksi terhadap pengendalian gulma anak sawit (kentosan) di perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini </span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">dilaksanakan di Distrik Kandrakai, Kecamatan Ulilin, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">. Pelaksanaan </span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">penelitian </span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">ini</span></span> <span class="s12"><span class="bumpedFont15">berlangsung mulai</span></span> <span class="s12"><span class="bumpedFont15">bulan Desember 2025 hingga Januari 2026. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial yang disusun dengan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dan </span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15"> (3 blok)</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">. Faktor pertama jenis herbisida yaitu,</span></span> <span class="s24"><span class="bumpedFont15">Triklopir</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">,</span></span> <span class="s24"><span class="bumpedFont15">Glufosinate</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15"> , </span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">Triklopir + glufosinate.</span></span> <span class="s12"><span class="bumpedFont15">Faktor kedua adalah &nbsp;dosis herbisida yang terdiri dari 4 aras yaitu, D1 = &nbsp;0 l/ha, D2 = 0,5 l/ha, D3 = 2 l/ha, D4 = 4 l/ha. Hasil yang di dapatkan akan dianalisis menggunakan sidik ragam (</span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">Analysis of Variance</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">) pada jenjang nyata 5 %, dan apabila memiliki perbedaan secara statistik, maka dilanjutkan dengan uji lanjutan menggunakan uji jarak berganda Duncan (</span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">Duncan’ Multiple Range Test</span></span><span class="s12"><span class="bumpedFont15">) pada taraf signifikan 5 %.</span></span> <span class="s12"><span class="bumpedFont15">Hasil analisis Triklopir pada dosis 4 l/ha menunjukkan kerusakan gulma yang berbeda nyata dibanding dosis 2 l/ha, 0,5 l/ha dan 0 l/ha. Herbisida glufosinat maupun campuran glufosinat dan triklopir pada dosis 2 l/ha dan 4 l/ha merupakan perlakuan yang paling efektif dalam pengendalian gulma anak sawit liar (kentosan).</span></span></p> <p class="s26"><span class="s12"><span class="bumpedFont15">Kata kunci : </span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">Dosis</span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">, </span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">Gulma kentosan</span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">, </span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">Herbisida</span></span><span class="s24"><span class="bumpedFont15">, Konsentrasi, Pengendalian</span></span></p> Firman Syahputra, Neny Andayani, Githa Noviana Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2822 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Perbedaan Jumlah Rodentisida terhadap Jumlah Umpan yang Termakan oleh Hama Tikus pada Perkebunan Kelapa Sawit di PT Bio Inti Agrindo https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2815 <p>Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan jumlah umpan Racumin yang diberikan terhadap jumlah termakan oleh tikus di Perkebunan kelapa sawit PT. Bio Inti Agrindo. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 November 2025 hingga 4 desember 2025 menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian ditentukan melalui survei pada blok 32-44 kemudian&nbsp; dipilih 3 baris yaitu baris 5, baris 15 dan baris 25 sebagai unit perlakuan. Perlakuan yang di berikan berupa pemberian umpan Racumin sebanyak 1 butir, 2 butir, dan 3 butir per pokok. Parameter yang di amati adalah jumlah umpan Racumin yang termakan oleh hama tikus pada setiap perlakuan. Data dianalisis menggunakan Analisis Varian Satu Arah (ANOVA) pada Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian 2 butir umpan Racumin menghasilkan rata-rata jumlah umpan yang termakan tertinggi, yaitu sebesar 17,00 butir. Namun demikian perbedaan jumlah umpan Racumin yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah umpan yang termakan oleh hama tikus (p = 0,369 &gt; 0,05).</p> Rafy Atala Arifin, Idum Satya Santi, Alan Handru Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2815 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Respon Bibit Kelapa Sawit di MN terhadap Macam Bahan Pembenah Tanah pada Berbagai Jenis Tanah https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2827 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap main nursery terhadap pemberian berbagai jenis bahan pembenah tanah (solid, abu TKKS, kompos TKKS) pada beberapa jenis tanah (regosol, latosol, grumusol). Kegiatan penelitian dilaksanakan di lahan pertanian milik masyarakat Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, berlangsung dari bulan Maret hingga Juni 2026. Metode yang digunakan adalah percobaan faktorial yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu jenis bahan pembenah tanah yang terdiri atas tiga aras: P1 (solid), P2 (abu TKKS), dan P3 (kompos TKKS). Faktor kedua yaitu jenis tanah yang juga terdiri atas tiga aras: T1 (regosol), T2 (latosol), dan T3 (grumusol). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan sidik ragam (Anova) pada taraf nyata 5%, dan apabila ditemukan pengaruh yang nyata, dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf yang sama. Parameter yang diamati meliputi pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, panjang daun, lebar daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk, panjang akar, berat segar akar, berat kering akar, volume akar, C organik awal, C organik akhir, serta pH awal dan akhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian bahan pembenah tanah pada berbagai jenis tanah memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter pertambahan tinggi tanaman dan panjang akar.</p> Paulus Diapari Siringo Ringo, Enny Rahayu, Valensi Kautsar Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2827 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Dampak Pemberian Pupuk Organik dan NPK terhadap Serapan Nitrogen di Pembibitan Kelapa Sawit Main nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2828 <p>Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasal dari sisa-sisa organisme, baik dari hewan maupun tumbuhan, yang telah melalui proses dekomposisi secara alami atau dengan bantuan mikroorganisme. Tujuan penelitian iini Adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis Dosis terhadap serapan nitrogen dan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap <em>main nursery.</em> Penelitian ini dilaksanakan dikebun pendidikan dan penelitian (KP2 Instiper) Jl. Nangka II, Maguwoharjo, Depok, Sleman Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 06 Maret 2026 sampai dengan tanggal 06 Juni 2026. Penelitian ini disusun mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah pemberian pupuk Organik yang terdiri dari&nbsp; tiga jenis, yaitu : PKS (pupuk kotoran sapi), PKK (pupuk kotoran kambing) dan PHD (pupuk hijau daun) dan Faktor kedua adalah pemberian Dosis Pupuk Organik yang terdiri dari 4 aras dosis, yaitu : PO 1 (1:1), PO 2 (1:2), PO2 (1:3) dan&nbsp; P0 (kontrol 25g.) Dari kedua faktor tersebut&nbsp; diperoleh 3 x 4 = 12 kombinasi perlakuan, setiap kombinasi&nbsp; perlakuan diulang sebanyak 3 kali. sehingga jumlah tanaman yang diperlukan sebanyak 12 x 3 = 36 tanaman. Analisis data menggunakan ANOVA dengan α = 5%. Bila hasil menunjukkan perbedaan signifikan, analisis dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil menunjukkan tidak ada interaski nyata namun Pemberian berbagai macam pupuk organik berpengaruh nyata terhadap serapan nitrogen serta sebagian besar parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>main nursery</em>. Pupuk kandang dari kambing (PKK) menghasilkan performa paling baik bila dibandingkan dengan pupuk hijau berbahan daun (PHD) meskipun pada beberapa parameter pupuk kandang kambing (PKK) tidak terdapat perbedaan signifikan dengan pupuk kandang sapi (PKS), dan dosis pupuk organik berpengaruh nyata terhadap beberapa aspek pertumbuhan, terutama pada berat segar akar, meskipun tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada sebagian besar parameter lainnya. Dosis 1:2 menunjukkan kecenderungan memberikan hasil terbaik.</p> Muhammad Rafif Irsyad, Enny Rahayu, Herry Wirianata Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2828 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Macam By Product Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) di Main Nursery pada Lapisan Tanah yang Berbeda https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2829 <p>Penelitian ini menelaah tanggapan pertumbuhan bibit kelapa sawit (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) pada fase <em>main nursery</em> ketika beberapa hasil samping perkebunan kelapa sawit dipadukan dengan tanah dari kedalaman lapisan yang berbeda. Percobaan dilaksanakan selama Juli–September 2025 di Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Susunan percobaan menerapkan RAL faktorial dua faktor. Faktor pertama berupa sumber <em>by product</em>, yaitu NPK 15-15-6-4 sebagai pembanding, <em>decanter solid</em>, tandan kosong kelapa sawit, dan kompos LCC. Faktor kedua adalah kedalaman tanah yang mencakup 0–20 cm, 20–40 cm, serta 40–60 cm. Dari kedua faktor tersebut diperoleh 12 perpaduan perlakuan dengan empat kali pengulangan pada masing-masing kombinasi, sehingga total terdapat 48 unit percobaan. Data pengamatan diuji melalui ANOVA pada tingkat 5% dan dilanjutkan DMRT 5% apabila hasil pengujian menunjukkan perbedaan yang nyata. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa kedua faktor tersebut umumnya tidak saling memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bibit, dengan pengecualian pada peubah volume akar. Penggunaan <em>decanter solid</em> dan kompos LCC yang dipadukan dengan tanah lapisan 0–20 cm maupun 20–40 cm menghasilkan volume akar yang lebih tinggi. Sementara itu, <em>decanter solid</em>, TKKS, dan kompos LCC tidak memperlihatkan perbedaan respons pertumbuhan yang nyata. Hal yang sama dijumpai pada faktor kedalaman tanah, karena penggunaan lapisan 0–20 cm, 20–40 cm, dan 40–60 cm menghasilkan pertumbuhan bibit yang relatif setara selama berada pada kondisi <em>main nursery</em>.</p> Wely Junianto Wijaya, Sri Manu Rohmiyati, Githa Noviana Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2829 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Beberapa Vegetasi Tumbuhan terhadap Kesuburan Fisik dan Kimia Tanah Inceptisol dan Ultisol di Perkebunan Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2830 <p>Kesuburan fisik dan kimia tanah merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan kelapa sawit, terutama pada tanah Inceptisol dan Ultisol yang memiliki karakteristik berbeda. Keberadaan vegetasi tumbuhan di sekitar tanaman kelapa sawit diduga berkaitan dengan kondisi kesuburan tanah pada lokasi tumbuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kesuburan fisik dan kimia tanah Inceptisol dan Ultisol pada beberapa vegetasi tumbuhan, mengetahui perbedaan tingkat kesuburan kedua jenis tanah, serta mengetahui mengetahui status kesuburan fisik dan kimia tanah berdasarkan kriteria atau harkat sifat tanah pada masing-masing kondisi vegetasi. Penelitian dilaksanakan pada Februari sampai April 2026 di PT Kencana Graha Permai, Desa Randai, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penelitian menggunakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan dua faktor, yaitu jenis tanah Inceptisol dan Ultisol serta vegetasi Asystasia gangetica, Nephrolepis biserrata, dan Piringan, dengan tiga ulangan dan 36 sampel tanah. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif berdasarkan nilai rerata dan dibandingkan dengan kriteria atau harkat sifat tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Inceptisol memiliki tekstur pasiran, sedangkan Ultisol memiliki tekstur geluh lempung pasiran. Kadar lengas, C-organik, kapasitas pertukaran kation, N-total, dan K-tersedia pada Ultisol lebih tinggi dibandingkan Inceptisol. P-tersedia pada kedua jenis tanah tergolong sangat rendah, sedangkan pH tanah berkisar dari sangat masam hingga masam. Variasi vegetasi menunjukkan adanya perbedaan nilai beberapa parameter, tetapi status kesuburan tanah tetap mengikuti karakteristik masing-masing jenis tanah.</p> Alpindo, Abdul Mu'in, Sri Manu Rohmiyati Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2830 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Efektivitas Kombinasi Pupuk Organik Cair dan Dolomit dalam Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Main Nursery pada Tanah Masam Ultisol https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2833 <p>Tanah Ultisol memiliki karakteristik berupa tingkat kemasaman yang tinggi serta tingkat kesuburan kimia yang relatif rendah, sehingga kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan bibit kelapa sawit. Kombinasi antara dolomit dan pupuk organik cair (POC) kulit pisang diharapkan dapat menstimulasi pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tingkatan Main Nursery sekaligus memulihkan kualitas media tanamnya. Fokus dari studi ini adalah menganalisis dampak aplikasi POC kulit pisang, penggunaan dolomit, serta kombinasi interaksi keduanya terhadap laju pertumbuhan bibit kelapa sawit pada media tanah Ultisol yang bersifat masam. Selama tiga bulan di fase Main Nursery, penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor. Faktor pertama ialah konsentrasi POC kulit pisang (0%, 30%, dan 40%), sedangkan faktor kedua yaitu pemberian dolomit dengan dosis 0, 40, dan 60 g/polybag. Penelitian terdiri atas sembilan kombinasi perlakuan dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diukur mencakup dimensi pertumbuhan bibit, meliputi tinggi bibit, jumlah dan lebar daun, diameter batang, serta panjang akar. Selain itu, dilakukan pula penimbangan terhadap berat basah dan berat kering pada bagian tajuk tanaman maupun akar. Temuan eksperimen mengindikasikan bahwa perlakuan dengan dosis dolomit serta konsentrasi POC dari kulit pisang belum mampu memberikan respons yang signifikan bagi tiap-tiap parameter pertumbuhan yang diukur. Pertumbuhan bibit kelapa sawit juga tidak dipengaruhi secara nyata oleh adanya interaksi antara perlakuan pupuk organik cair (POC) dari kulit pisang dan dolomit. Dengan demikian, pemberian pupuk organik cair (POC) berbahan kulit pisang hingga taraf 40% dan dolomit hingga 60 g/polybag belum efektif dalam memacu pertumbuhan bibit kelapa sawit secara signifikan pada tanah Ultisol selama penelitian berlangsung.</p> Krisna Dwi Setiadi, Enny Rahayu, Githa Noviana Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2833 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Ayam dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terong Lalap Hijau https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2835 <p>Terong lalap hijau (<em>Solanum melongena</em> L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak diminati masyarakat dan memiliki peluang untuk dikembangkan. Pertumbuhan dan hasil tanaman terong lalap hijau dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara yang dapat diperoleh melalui pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik. Penelitian ini dilakukan di KP2 Institut Pertanian Stiper yang terletak di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang ayam dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong lalap hijau serta mengetahui pengaruh interaksi kedua jenis pupuk tersebut. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji DMRT apabila terdapat pengaruh nyata. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pupuk NPK memberikan pengaruh lebih besar terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong lalap hijau dibandingkan pupuk kandang ayam. Dosis pupuk NPK 5 g/<em>Polybag</em> merupakan perlakuan yang memberikan respons paling konsisten dan dapat digunakan sebagai salah satu dosis yang direkomendasikan dalam budidaya terong lalap hijau.</p> Refangga Sevaryanto Sembiring, Ety Rosa Setyawati, Ryan Firman Syah Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2835 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Ukuran Polybag dan Jenis Tanah terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2840 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara ukuran polybag dan jenis tanah terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di main nursery, serta mengetahui pengaruh masing-masing faktor terhadap pertumbuhan bibit. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) INSTIPER, Jl. Nangka II, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, pada 11 Mei 2026 sampai 3 Agustus 2026. Bahan penelitian berupa bibit kelapa sawit PPKS 540 berumur 4 bulan dengan media tanah Regosol, Latosol, dan Grumusol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor, yaitu ukuran polybag 50 × 40 cm dan 45 × 45 cm serta tiga jenis tanah. Terdapat enam kombinasi perlakuan dengan lima ulangan sehingga digunakan 30 bibit. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf 5% dan DMRT 5% apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi nyata antara ukuran polybag dan jenis tanah terhadap seluruh parameter pertumbuhan. Ukuran polybag maupun jenis tanah juga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase main nursery. Dengan demikian, kedua ukuran polybag dan ketiga jenis tanah yang digunakan memberikan respons pertumbuhan yang relatif sama pada kondisi penelitian ini.</p> Rizki Hermawan, Neny Andayani, Yohana Theresia Maria Astuti Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2840 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Efektivitas Dosis Biochar Sekam Padi dan Pupuk NPK Mutiara terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tunggak (Vigna Unguiculata L.) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2842 <p>Kacang tunggak (Vigna unguiculata L.) merupakan tanaman legum yang berpotensi sebagai sumber pangan nabati karena memiliki kandungan protein, serat, dan vitamin yang cukup tinggi. Namun, pertumbuhan dan hasil tanaman masih dapat dipengaruhi oleh pengelolaan pemupukan yang belum optimal, ketidak seimbangan unsur hara, serta rendahnya pemanfaatan bahan organik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penggunaan biochar sekam padi sebagai bahan pembenah tanah yang dikombinasikan dengan pupuk NPK Mutiara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis biochar sekam padi, dosis pupuk NPK Mutiara, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tunggak. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, Maguwoharjo, Sleman, selama 63 hari dari 5 Mei sampai 6 Juli 2026. Penelitian ini menggunakan percobaan lapangan dengan rancangan 3 x 3 faktorial, yang disusun dalam Rancangan Ancak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah perbandingan tanah dan biochar sekam padi, yaitu 1:1, 1:2, dan 2:1, sedangkan faktor kedua adalah dosis pupuk NPK Mutiara 16-16-16 sebesar 2, 4, dan 6 g/polybag, sehingga diperoleh 27 satuan percobaan dengan 81 polybag. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan DMRT 5% apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara biochar sekam padi dan pupuk NPK Mutiara terhadap seluruh variabel pertumbuhan dan hasil. Perbandingan tanah dan biochar 1:2 memberikan pertumbuhan terbaik pada berat segar akar. Pemberian dosis NPK 2, 4, dan 6 g/polybag memberikan pertumbuhan dan hasil yang sama baiknya.</p> Gabriel Junianto, Ety Rosa Setyawati, Setyastuti Purwanti Soebroto Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2842 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Keanekaragaman Serangga Pengunjung Turnera Subulata pada Kondisi Mikroseismik Akibat Lalu Lintas Kendaraan di Perkebunan Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2845 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga pengunjung Turnera subulata pada kondisi mikroseismik akibat lalu lintas kendaraan di perkebunan kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan selama 10 hari, yaitu 21 April – 2 Mei 2026, di perkebunan kelapa sawit Kebun Tapung Kanan 2, PT Sekar Bumi Alam Lestari, pada Blok 94A, 94B, dan 94G. Penelitian menggunakan metode observasional non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengukuran kondisi mikroseismik dilakukan menggunakan seismometer, sedangkan pengamatan serangga dilakukan secara langsung pada tanaman T. subulata. Parameter yang diamati meliputi intensitas getaran, jumlah dan komposisi serangga pengunjung, aktivitas serangga, serta jumlah kendaraan yang melintas. Keanekaragaman serangga dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener (H'). Selama penelitian tercatat 59 kendaraan dan ditemukan sebanyak 1.080 individu serangga pengunjung. Jumlah individu tertinggi ditemukan pada Blok 94G sebanyak 413 individu, diikuti Blok 94B sebanyak 365 individu dan Blok 94A sebanyak 302 individu. Komunitas serangga didominasi oleh Apis cerana dan Xylocopa sp. Rata-rata getaran tertinggi terdapat pada Blok 94B sebesar 9,0 mm/s, diikuti Blok 94A sebesar 7,8 mm/s dan terendah pada Blok 94G sebesar 2,5 mm/s. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pada Blok 94A, 94B, dan 94G masuk pada kategori sedang. Secara deskriptif, lokasi dengan intensitas getaran lebih rendah menunjukkan jumlah individu dan keanekaragaman serangga yang relatif lebih tinggi. Namun, pola tersebut belum dapat dinyatakan sebagai hubungan sebab-akibat karena penelitian tidak menggunakan uji statistik untuk menguji pengaruh mikroseismik terhadap keanekaragaman serangga.</p> Andra Dwi Pardipa, Alan Handru, Idum Satya Santi Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2845 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pemetaan Erosi dengan Metode Rusle dan Analisis Panel pada Penggunaan Lahan Pertanian di Kelurahan Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2847 <p>Kelurahan Hargobinangun berada pada lereng selatan Gunung Merapi dengan topografi yang beragam dan curah hujan yang tinggi, sehingga wilayah ini rawan mengalami erosi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis tingkat erosi pada berbagai kondisi lereng, (2) mengintegrasikan metode Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) dengan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan penginderaan jauh untuk menghasilkan pemetaan yang akurat, dan (3) mengetahui peran kerapatan tutupan vegetasi dalam menekan erosi. Penelitian dilaksanakan pada musim penghujan dengan menggabungkan dua metode, yaitu pemodelan spasial RUSLE (A = R × K × LS × C × P) menggunakan ArcGIS Pro dan analisis panel berupa sembilan pengamatan langsung pada tiga titik lereng. Data yang digunakan meliputi curah hujan CHIRPS periode 2015–2025, peta tanah BBSDLP, DEMNAS, citra Landsat 8, serta hasil pengamatan dan pengujian sampel tanah di laboratorium. Hasil pemodelan menunjukkan laju erosi berkisar 0 hingga sekitar 12.579 ton/ha/tahun dengan rata-rata 34,4 ton/ha/tahun. Sebagian besar wilayah (80,7%) tergolong kelas sangat ringan, sedangkan kelas berat dan sangat berat (4,3%) terpusat pada lereng atas bagian utara yang curam dan panjang. Faktor kemiringan lereng (LS) terbukti paling menentukan besarnya erosi, sedangkan kerapatan tutupan vegetasi (NDVI) mampu mengimbangi pengaruh lereng yang curam. Hasil analisis panel memperkuat temuan tersebut, dengan seluruh pengamatan berada pada kategori potensi erosi sedang. Dengan demikian, integrasi RUSLE dengan GIS dan penginderaan jauh yang diverifikasi analisis panel menghasilkan pemetaan yang layak dijadikan dasar perencanaan konservasi tanah di wilayah penelitian.</p> Johan Nur Ramadhani, Dian Pratama Putra, Valensi Kautsar Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2847 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Pemangkasan Wiwilan dan Dosis Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat Cherry (Solanum lycopersicum var. Cerasiforme) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2846 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan wiwilan dan variasi dosis pupuk lengkap terhadap pertumbuhan dan hasil tomat cherry. Penelitian ini dilakukan di Desa Nogosari, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat penelitian berada pada ketinggian 150-200 mdpl. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2025 sampai dengan Februari 2026. Penelitian ini menggunakan metode faktorial dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah pemangkasan terdiri dari 3 aras yaitu tanpa pemangkasan, pemangkasan semua wiwilan pada masa vegetatif setelah 15 HST, dan pemangkasan semua wiwilan pada fase generatif setelah 30 HST . Sedangkan untuk faktor kedua adalah dosis pupuk NPK yang terdiri dari 3 aras yaitu 60 g/polybag (5g setiap pengaplikasian), 84 g/polybag (7g setiap pengaplikasian), 108 g/polybag (9g setiap pengaplikasian). Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 kombinasi perlakuan dengan pengulangan sebanyak 3 kali, maka diperoleh 27 unit percobaan. Hasil penelitian di analisis menggunakan sidik ragam (Anova) pada jenjang nyata 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata, dilanjutkan dengan uji DMRT jenjang 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi nyata antara kombinasi perlakuan pemangkasan wiwilan dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan tanaman tomat cherry. Perlakuan tanpa pemangkasan wiwilan memberikan hasil paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat cherry yang ditunjukkan pada parameter jumlah buah pertanaman. Pemupukan NPK dengan dosis 60 g , 84 g dan 108 g pengaruhnya tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat cherry.</p> Ervina Iva Yudhi Rahmadhani, Samsuri Tarmadja, Retni Mardu Hartati Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2846 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Cocopeat sebagai Campuran Media Tanam dan Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2848 <p>Penelitian dilakukan untuk mengkaji sejauh mana dosis Cocopeat dan dosis pupuk hayati Bioneensis memengaruhi laju pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pembibitan utama. Kegiatan berlangsung di Kebun Percobaan INSTIPER Yogyakarta selama periode 12 April sampai dengan 12 Juli 2026. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor perlakuan, meliputi faktor Cocopeat pada empat taraf konsentrasi (0%, 10%, 25%, dan 40%) serta faktor pupuk hayati Bioneensis pada empat taraf takaran (0 g, 5 g, 10 g, dan 15 g). Kombinasi kedua faktor tersebut menghasilkan 16 satuan perlakuan dengan tiga ulangan, sehingga jumlah bibit yang diamati mencapai 48 bibit. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf 5%, diikuti dengan uji DMRT pada taraf yang sama jika terdapat perbedaan nyata antarperlakuan. Temuan menunjukkan bahwa baik Cocopeat maupun pupuk hayati Bioneensis, secara mandiri maupun kombinasi keduanya, tidak memengaruhi secara signifikan seluruh peubah yang diukur, meliputi pertambahan tinggi, pertambahan jumlah daun, pertambahan diameter batang, bobot basah dan kering tajuk, bobot basah dan kering akar, serta volume akar.</p> Fachreza Febriansyah, Wiwin Dyah Ully Parwati, Retni Mardu Hartati Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2848 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit terhadap Pemberian Hidrogel Non Komposit dan Bakteri Fotosintesis https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2850 <p><strong>&nbsp;</strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pre nursery bibit kelapa sawit terhadap aplikasi hidrogel dan bakteri fotosintesis. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Sopalan, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada bulan Mei hingga Juli 2026. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah hidrogel yang terdiri atas empat taraf, yaitu tanpa hidrogel (0 g), hidrogel 0,6 g, 0,8 g, dan 1,0 g. Faktor kedua adalah bakteri fotosintesis dengan empat taraf perlakuan, yaitu bakteri fotosintesis, kontrol, 10 mL, 15 mL, dan 20 mL. Dengan demikian diperoleh 16 kombinasi perlakuan, dan setiap kombinasi diulang sebanyak 4 kali. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam pada taraf signifikansi 5%. Apabila terdapat perbedaan nyata, maka dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Parameter yang diamati meliputi kadar lengas tanah, kadar air nisbi, skor kehijauan daun, diameter batang, jumlah daun, tinggi tanaman, panjang akar total, bobot segar akar, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot segar tajuk, serta luas daun total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara hidrogel dan bakteri fotosintesis tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Hal ini diduga karena kondisi ketersediaan air pada media belum menjadi faktor pembatas, sehingga kebutuhan air bibit masih tercukupi. Selain itu, kebutuhan nutrisi tanaman kemungkinan juga masih berada pada tingkat yang memadai, sehingga kontribusi masing-masing perlakuan tidak menunjukkan efek saling memperkuat terhadap pertumbuhan dan fisiologi bibit kelapa sawit. Secara mekanistik, hidrogel dan bakteri fotosintesis bekerja melalui jalur yang berbeda: hidrogel lebih berperan dalam meningkatkan retensi air dan ketersediaan air bagi tanaman, sedangkan bakteri fotosintesis lebih berperan dalam membantu proses biologis yang berkaitan dengan ketersediaan nutrisi dan aktivitas fisiologis tanaman. Dengan mempertimbangkan perbedaan mekanisme tersebut, respon yang muncul pada rentang dosis yang digunakan kemungkinan belum cukup besar untuk menghasilkan perbedaan yang terdeteksi secara statistik maupun interaksi yang sinergis</p> Edsa Khairun Nufus, Yovi Avianto, Herry Wirianata Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2850 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Dosis Pupuk Organik Kulit Singkong dan Pupuk NPK terhadap Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2855 <p>Selada (<em>Lactuca sativa L) </em>merupakan salah satu komoditas sayuran daun yang membutuhkan ketersediaan unsur hara yang memadai untuk menunjang pertumbuhan ddan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis kompos kulit singkong dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada, mengetahui dosis masing-masing pupuk yang memberikan respons terbaik, serta mengamati ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Penelitian dilaksanakan di KP2 Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, mulai 25 Mei sampai 15 Agustus 2026. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu kompos kulit singkong pada dosis 0, 100, 200, dan 300 g/tanaman serta pupuk NPK pada dosis 0, 1, 2, dan 3 g/tanaman. Kombinasi kedua faktor menghasilkan 16 perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 5 kali, sehingga total terdapat 80 tanaman. Analisis data dilakukan menggunakan sidik ragam taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji BNT apabila diperoleh hasil yang nyata. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi nyata antara kompos kulit singkong dan pupuk NPK terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, klorofil, berat segar tajuk, berat kering tajuk, dan berat kering akar. Kombinasi kompos 300 g/tanaman dengan NPK 2 g/tanaman menghasilkan berat segar tajuk tertinggi sebesar 120,0 g. Kompos kulit singkong 200 g/tanaman menghasilkan volume akar tertinggi dengan rata-rata 2,1 ml, sedangkan dosis NPK 2 g/tanaman memberikan respons tertinggi terhadap berat segar tajuk. Selama penelitian berlangsung, tanaman tidak menunjukkan adanya serangan hama maupun penyakit.</p> Athilla Rafi, Achmad Himawan, Fariha Wilisiani Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2855 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Efektivitas Penggunaan Pupuk Bokashi dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2854 <p>Kelapa sawit menjadi tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan membutuhkan bahan tanam bermutu untuk menunjang keberhasilan pertumbuhan di lapangan. Pada tahap main nursery, pemenuhan air dan unsur hara menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan bibit. Studi ini ditujukan guna mempelajari pengaruh pupuk bokashi dan pupuk NPK 16:16:16, baik secara tunggal ataupun dalam kombinasinya, bagi pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase main nursery. Studi dijalankan pada periode tiga bulan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Institut Pertanian Stiper Yogyakarta berbantuan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan tiga ulangan. Perlakuan bokashi terdiri atas 0, 250, 500, dan 750 g/polybag, sedangkan pupuk NPK diberikan sebanyak 0, 5, dan 10 g/polybag. Didapati total 12 kombinasi perlakuan dan 36 tanaman percobaan. Data penelitian diolah dengan langkah analisis sidik ragam pada taraf 5% serta diteruskan untuk uji Duncan jika diperoleh keberpengaruhan nyata. Luaran studi memproyeksikan jika bokashi tidak memberi dampak nyata bagi parameter pertumbuhan yang diamati. Sebaliknya, pupuk NPK menghasilkan keberpengaruhan nyata bagi perkembangan tinggi bibit, dengan nilai rerata numerik paling tinggi pada dosis 10 g/polybag. Selain itu, ditemukan interaksi antara bokashi dan NPK pada pertambahan diameter batang. Rata-rata numerik tertinggi diperoleh pada kombinasi bokashi 750 g/polybag dengan NPK 5 g/polybag. Berdasarkan kondisi penelitian, pemberian NPK memberikan respons nyata pada pertambahan tinggi bibit, sedangkan bokashi secara tunggal belum menunjukkan pengaruh nyata pada parameter yang diukur.</p> Abi Qihnor, Neny Andayani, Githa Noviana Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2854 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari dan Pupuk P terhadap Pertumbuhan Tanaman Mucuna bracteata https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2849 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara intensitas cahaya matahari dan pupuk TSP&nbsp; dalam pengaruhnya terhadap pertumbuhan <em>Mucuna bracteata</em>. Penelitian ini dilakukan di KP2 Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, &nbsp;Desa Kali Kuning, Kec. Ngemplak, Kab. Sleman, DIY. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2026 hingga Juni 2026. Penelitian ini menggunakan metode rancangan split plot dengan faktor yang tersusun dalam : Main Plot (Naungan dengan tingkat kerapatan) kontrol (0% tanpa naungan), naungan 50%, naungan 65%. Sub Plot (Dosis Pupuk TSP) kontrol (0g tanpa pupuk), 1,5g/tanaman, 3g/tanaman, 5g/tanaman. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan <em>analysis of variance</em> (ANOVA) pada jenjang nyata 5% dan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak nyata interaksi antara intensitas cahaya matahari dan pupuk TSP dalam mempengaruhi pertumbuhan <em>Mucuna bracteata</em>. Pemberian TSP menunjukkan bahwa tanaman tanpa TSP berpengaruh signifikan terhadap jumlah daun, berat segar akar, volume akar. Pada pemberian naungan menunjukkan bahwa nuangan 65% berpengaruh signifikan terhadap panjang sulur tanaman <em>Mucuna bracteata</em>.</p> Hasbiya Pefri, Yohana Theresia Maria Astuti, Sri Gunawan Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2849 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit Swadaya dan Plasma dalam Program PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2859 <p>Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang berperan penting dalam perekonomian masyarakat. Namun, produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait kualitas bahan tanaman, penggunaan input, pemeliharaan, dan pengelolaan kebun. Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat melalui peremajaan tanaman dan perbaikan pengelolaan kebun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan produktivitas perkebunan kelapa sawit PSR dan swadaya serta mengidentifikasi karakteristik pengelolaan yang berkaitan dengan produktivitas kedua kelompok petani. Penelitian dilaksanakan di Desa Serbananti, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada Agustus 2026. Metode penelitian menggunakan deskriptif komparatif dengan 60 responden yang terdiri atas 30 petani PSR dan 30 petani swadaya. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pencatatan hasil panen, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani PSR memiliki intensitas pengelolaan kebun yang lebih tinggi, terutama dalam pemupukan, pruning, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Rata-rata produktivitas kebun PSR mencapai 30.343,17 kg/ha/tahun, sedangkan kebun swadaya sebesar 17.427,37 kg/ha/tahun. Hasil uji Independent Samples t-test menunjukkan nilai t sebesar 5,988 dengan signifikansi 0,000 &lt; 0,05, sehingga terdapat perbedaan produktivitas yang signifikan antara kedua kelompok. Petani PSR juga menunjukkan kinerja panen dan pemasaran yang lebih baik serta pendapatan bersih yang cenderung lebih tinggi. Perbedaan produktivitas berkaitan dengan kombinasi kondisi kebun, bahan tanam, intensitas input, dan pengelolaan agronomis.</p> Aulia Faridz Azman Sinaga, Idum Satya Santi, Sri Gunawan Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2859 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Berbagai Macam Kompos (Batang Pisang, Daun Bambu Kering, Tandan Kosong) dan Dosisnya Pada Bibit Kelapa Sawit Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2856 <p>Pembibitan kelapa sawit adalah tahapan paling awal dalam menuntukan kesuksesan penanaman selanjutnya di lapangan. Pembibitan pada fase main nursery pemberian jenis kompos dan menentukan dosis sangat dibutuhkan oleh bibit untuk masa pertumbuhan, salah satunya pupuk organik yang bisa meyesuaikan pada struktur tanah dan memperkaya biodiversitas mikroorganisme didalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya interaksi dan pengaruh antara jenis pupuk kompos dan dosis terhadap pertumbuhan bibit di main nursery. penelitian ini dilakukan di Kebun Penelitian dan Penelitian (KP2) Instiper yang berlokasi di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Juli 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah jenis kompos yaitu kompos batang pisang, kompos daun bambu kering dan kompos janjang kosong. Faktor yang kedua yaitu dosis yang terdiri dari 0 + NPK, 250 g/polybag, 500 g/polybag, dan 750 g/polybag. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya interaksi antara jenis kompos dan dosis terhadap parameter jumlah daun dan berat kering tajuk bibit kelapa sawit di main nursery dengan pemberian kompos janjang kosong dengan dosis 750 g/polybag menunjukkan hasil terbaik. Sementara itu, pemberian kompos janjang kosong memberikan tinggi bibit, luas daun dan berat kering akar yang terbaik. Dosis 250 g/polybag sudah cukup untuk meningkatkan tinggi bibit dan luas daun terbaik.</p> M. Chandra Lesmana, Pauliz Budi Hastuti, Achmad Himawan Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2856 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Pemberian Pupuk Ampas Kopi dan POC Cangkang Telur Ayam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabe Rawit (Capsicum frutescens) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2861 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk ampas kopi dan konsentrasi POC cangkang telur ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (<em>Capsicum frutescens</em>). Kegiatan penelitian berlangsung di KP2 Institut Pertanian Stiper Yogyakarta yang berlokasi di Desa Maguwoharjo, Kec. Depok, Kab. Sleman, daerah Istimewa Yogyakarta pada titik koordinat (7,76053 S, 110,42703 T) pada April-Agustus 2026. Dengan menggunakan RAL faktorial, penelitian ini terdiri atas dua faktor, yakni kompos ampas kopi (kontrol, 37, 97, dan 147 g) dan konsentrasi POC cangkang telur ayam (kontrol, 70, 80, dan 90 ml/l), masing-masing dengan 4 aras. Pengombinasian keduanya menghasilkan 16 perlakuan dengan 4 ulangan per perlakuan. Analisis data dilakukan dengan ANOVA taraf 5% dan diikuti uji DMRT untuk membandingkan antarperlakuan. Kombinasi kompos ampas kopi 37 g dengan POC cangkang telur ayam 80 ml/l terbukti memberikan pengaruh terbaik pada jumlah buah cabai rawit. Selain itu, POC 80 ml/l lebih unggul dalam meningkatkan berat buah dibandingkan kontrol dan 70 ml/l, sedangkan ampas kopi berpengaruh sama terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil.</p> Julyanda Syahputra Butar-Butar, Elisabeth Nanik Kristalisasi, Alan Handru Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2861 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Pupuk NPK dan Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2862 <p>Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pemberian dosis pupuk NPK 15-15-6-4 dan komposisi media tanam biochar sekam padi pada bibit kelapa sawit di <em>main nursery. </em>Penelitian dilaksanakan Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Institut Pertanian STIPER Yogyakarta pada bulan Januari sampai Juni 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, NPK 15-15-6-4 dan komposisi media tanam tanah <em>top soil</em> dan biochar sekam padi dengan beberapa ulangan. Faktor NPK 15-15-6-4 terdiri dari 3 aras yaitu, 0 g (kontrol), 15 g, dan 25 g. Faktor komposisi media tanam terdiri dari 3 aras yaitu, Tanah <em>top soil</em> (kontrol), Tanah <em>top soil,</em> biochar 1:1, Tanah <em>top soil,</em> biochar 2:1. Dari kedua faktor tersebut disusun menjadi 9 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan di ulang sebanyak 4 kali ulangan. Data analisis menggunakan <em>Analysis of Variance</em> (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji <em>Duncan Multiple Range Test</em> (DMRT) apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi nyata pemberian NPK 15-15-6-4 dengan komposisi media tanam terhadap seluruh parameter yang diamati. Pemberian NPK 15-15-6-4 hanya berpengaruh terhadap parameter berat kering tanaman. Secara deskriptif NPK 15-15-6-4 dosis 25 g cenderung memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya.</p> Ardyan Amroji, Ryan Firman Syah, Yovi Avianto Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2862 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2860 <p>Cabai rawit (<em>Capsicum frutescens</em> L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan nilai ekonomi dan kebutuhan pasar yang relatif tinggi. Namun, produktivitas tanaman cabai rawit masih perlu ditingkatkan melalui penerapan teknik penanaman yang tepat, seperti pemilihan media tanam yang dapat menyediakan unsur hara serta mendukung kondisi fisik media bagi pertumbuhan tanaman. Pemanfaatan sekam padi dan bioslurry padat sebagai bahan media tanam organik berpotensi memperbaiki sifat fisik dan kesuburan media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari komposisi sekam padi dan bioslurry padat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit serta menentukan komposisi media tanam yang paling tepat. Penelitian dilaksanakan di KP2 Institut Pertanian STIPER, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri atas enam perlakuan, yaitu M0 sebagai kontrol berupa 100% <em>top soil</em>; M1 dengan komposisi <em>top soil</em>, sekam padi, dan bioslurry padat sebesar 50%:25%:25%; M2 sebesar 40%:35%:25%; M3 sebesar 30%:30%:40%; M4 sebesar 20%:20%:60%; dan M5 sebesar 10%:20%:70%. Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali sehingga diperoleh 36 satuan percobaan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf nyata 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata antarperlakuan, pengujian dilanjutkan menggunakan uji Tukey atau <em>Honestly Significant Difference</em> (HSD) pada taraf nyata 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tanam sekam padi dan <em>bioslurry</em> padat memberikan pengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan dan produksi, yaitu jumlah daun, berat segar akar, berat buah per petikan dan total, jumlah buah per petikan, serta berat kering buah per petikan. Sementara itu, penggunaan media tanam sekam padi dan <em>bioslurry</em> padat tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, panjang akar, berat segar tajuk, berat kering tajuk, dan berat kering akar. Komposisi media tanam 20% <em>top soil</em>:20% sekam padi:60% <em>bioslurry</em> padat merupakan komposisi yang paling tepat untuk mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.</p> Evan Valenxius Pardede, Valensi Kautsar, Abdul Mu,in Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2860 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Evaluasi Efisiensi dan Kualitas Manajemen Peremajaan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis jacq.) dengan Metode Deboling di Manis Mata Estate, Cargil Tropical Palm, Provinsi Kalimantan Barat https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2839 <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kualitas dan efektivitas peremajaan pohon kelapa sawit <em>(Elaeis guineensis Jacq.)</em> melalui penggunaan teknik deboling di perkebunan Manis Mata Estate milik PT Harapan Sawit Lestari, Cargill Tropical Palm, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini dilakukan pada periode Agustus-Desember 2025 menggunakan metode penelitian deskriptif dan teknik evaluasi operasional. Penilaian kualitas deboling dilakukan melalui pengamatan kualitas deboling, pengukuran waktu (<em>time and motion study</em>), pengamatan lapangan, wawancara, serta dokumentasi perusahaan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa semua tahapan peremajaan pohon kelapa sawit telah dilakukan sesuai dengan SOP perusahaan, mulai dari penumbangan dan pencacahan, pembongkaran bonggol perakaran, penentuan titik tanam <em>(staking)</em>, penanaman tanaman penutup tanah, pembuatan lubang tanam, dan penanaman bibit kelapa sawit. Efisiensi penggunaan alat berat dan tenaga kerja tercermin dari capaian kinerja, termasuk penumbangan dan pencacahan 100 pohon/hari, pembongkaran bonggol akar 60 lubang/hari, penentuan titik tanam 4 hektar/tim/hari, pembuatan 432 lubang tanam/hari serta penanaman 80 pohon/hari/orang. Meskipun kondisi cuaca masih berpengaruh terhadap produktivitas alat berat dan efisiensi operasional, kualitas manajemen peremajaan melalui penggunaan teknik deboling secara umum telah memenuhi persyaratan teknis perusahaan.</p> Jimmi Edi Sumitro Marpaung, Githa Noviana, Muhamad Fajar Sidiq Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2839 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Komposisi Media Tanam dengan Cocopeat dan Dosis Nitrogen (N) terhadap Efisiensi Penggunaan N & Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Main Nursery (MN) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2866 <p>Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh komposisi media tanam dengan cocopeat (1 : 1, 1 : 2, 2 : 1) dan dosis nirogen (3 g, 6 g, 9 g) terhadap efisiensi penggunaan n &amp; pertumbuhan bibit kelapa sawit main nursery (mn) Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian milik masyarakat Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta pada bulan juni sampai agustus 2026. Penelitian ini menggunakan metode percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah perbandingan media tanam cocopeat terdiri dari 3 aras yaitu : C1: mediatanam cocopeat 1:1, C2 media tanam cocopeat 1:2, C3 media tanam cocopeat 2:1. Sedangkan faktor kedua macam dosis pupuk N terdiri dari 3 aras yaitu: N1 : 3 g, N2 :6g, N3: 9g. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (Anova) pada jenjang nyata 5%. Apabila terdapat berpengaruh nyata, dilanjutkan dengan uji DMRT pada jenjang nyata 5%. Parameter yang diamati antara lain tinggi bibit, jumlah daun, luas daun, berat segar tajuk, berat kering tajuk, berat segar akar, berat kering akar, panjang akar, jumlah akar, nitrogen, pengukuran pH, pengukuran EC dan kandungan klorofil. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi perbandingan media tanam cocopeat dan macam dosis pupuk n tidak memberikan interaksi nyata pada pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>main nursery</em>.</p> Rein Prima Butar-Butar, Dian Pratama Putra, Setyastuti Purwanti Soebroto Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2866 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Kombinasi Pupuk TSP dan Blotong terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Main Nursery https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2871 <p>Pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase main nursery sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara, khususnya fosfor, sehingga diperlukan pemupukan yang tepat dan efisien untuk mendukung pertumbuhan bibit. Penggunaan pupuk TSP sebagai sumber fosfor dan blotong sebagai bahan organik berpotensi meningkatkan ketersediaan hara sekaligus memperbaiki sifat media tanam, sehingga dapat menjadi alternatif pemupukan yang lebih berkelanjutan pada pembibitan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pupuk Triple Super Phosphate (TSP) dan blotong terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) pada fase <em>main nursery</em>. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP-2) Institut Pertanian Stiper Yogyakarta menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk TSP yang terdiri atas 0, 5, 10, dan 15 g/polibag, sedangkan faktor kedua adalah dosis blotong yang terdiri atas 0, 300, 600, dan 900 g/polibag. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, pH tanah, luas daun, volume akar, panjang akar, berat segar tajuk, berat kering tajuk, berat segar akar, dan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi nyata antara dosis pupuk TSP dan dosis blotong terhadap seluruh parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit yang diamati. Pemberian pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, dengan dosis 10 g/polibag menghasilkan jumlah daun tertinggi. Sementara itu, pemberian blotong berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, pH tanah, dan panjang akar. Dosis blotong 300 g/polibag memberikan hasil terbaik pada jumlah daun dan panjang akar. Pada parameter lainnya, seperti tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, volume akar, berat segar tajuk, berat kering tajuk, berat segar akar, dan berat kering akar, baik TSP maupun blotong tidak menunjukkan pengaruh nyata. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan pupuk TSP dosis 10 g/polibag dan blotong dosis 300 g/polibag direkomendasikan untuk mendukung pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase <em>main nursery</em>.</p> Tomy Situmorang, Fariha Wilisiani, Hangger Gahara Mawandha Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2871 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2873 <p>Riset ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik dan dosis pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang solanum tuberosum L. Pelaksanaan riset dilakukan di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah di bulan Februari 2026 sampai Mei 2026. Riset ini adalah percobaan berdasarkan faktual yang dikembangkan dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) yang meliputi 2 unsur. Unsur pertama adalah jenis pupuk organik terbagi menjadi 3 aras (A1pupuk kandang ayam (A2) vemikompos (A3) dan pupuk kandang kambing. Unsur kedua yaitu jumlah dosis pupuk organik yang terbagi menjadi 2 aras (D1) dosis pupuk 2,4 kg dan (D2) dosis pupuk 4,8 kg. Kedua unsur tersebut maka diperoleh 3x2 = 6 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, dengan setiap ulangan terdiri dari 1 sampel bedeng dan perbedengnya terdapat 10 tanaman, sehingga jumlah keseluruhan bedeng pada riset ini yaitu 6x3 = 18 bedeng dan untuk jumlah tanaman 18x10 = 180 tanaman. Hasil riset dianalisis dengan sidik ragam (<em>Analysis of varience</em>) pada jenjang nyata 5%. Jika terjadi pengaruh nyata diteruskan dengan uji jarak berganda Duncan (<em>Duncan’s Multiple Range Test)</em> pada pengaruh nyata 5%. Riset ini membuktikan ada keterkaitan nyata antara jenis pupuk organik dan dosis pupuk organik yaitu pada parameter jumlah daun. Dan di parameter lain itu hampir sama pertumbuhannya terhadap jenis pupuk organik dan dosis pupuk organik.</p> Joy Josten Ginting, Sri Suryanti , Yovi Avianto Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2873 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Efektivitas Penggunaan Kompos Kotoran Babi terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery pada Tanah Mineral dan Tanah Gambut https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2876 <p>Kompos kotoran kandang babi berpotensi menjadi pupuk organik karena memiliki tekstur yang halus dan juga mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta bahan organik yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit. Dengan demikian kotoran babi ini bisa menjadi pupuk alternatif yang bisa dimanfaatkan guna mengurangi pengaplikasian pupuk kimia, sehingga lebih ramah lingkungan dan dapat menekan biaya perawatan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dosis kompos kotoran babi, mengetahui pengaruh jenis media tanam yang baik untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit, serta mengetahui interaksi antara dosis kompos kotoran babi dan jenis media tanam terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap <em>main nursery</em>. Penelitian dilaksanakan di Desa Tambusai Barat, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, selama 3 bulan mulai bulan Mei sampai dengan Agustus 2026. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor, yaitu jenis tanah yaitu tanah mineral dan tanah gambut dan dosis kompos kotoran babi (kontrol pupuk NPK, 50, 100, 150, 200, dan 250 gram/polybag/minggu), &nbsp;dengan 3 kali pengulangan sehingga diperoleh 36 pokok sampel. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah tajuk, panjang akar, berat basah dan kering tajuk, serta berat basah dan kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis kompos kotoran babi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (Sig. = 0,020), diameter batang (Sig. = 0,044), berat basah tajuk (Sig. = 0,033), dan berat kering tajuk (Sig. = 0,046), dengan dosis 250 gram/polybag/minggu menghasilkan tinggi tanaman tertinggi (19,25 cm) dan diameter batang terbesar (1,23 cm). Faktor jenis tanah tidak berpengaruh nyata pada seluruh variabel yang diamati (Sig. &gt; 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompos kotoran babi efektif digunakan sebagai pupuk organik alternatif untuk mendukung pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap <em>main nursery</em>, baik pada media tanah mineral maupun tanah gambut.</p> Yunus Sirait, Betti Yuniasih, Enny Rahayu Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2876 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pengaruh Konsentrasi Herbisida Triklopir dan Infus Jumlah Akar untuk Mengendalikan Gulma Beringin di Perkebunan Kelapa Sawit https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2878 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi yang tepat dalam pengendalian gulma beringin dengan metode infus akar yang menggunakan jumlah akar sebagai pengujian gulma dalam menyerap herbisida terhadap keracunan gulma beringin di perkebunan kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari sampai Maret 2026 di kebun masyarakat yang terletak di Desa Petaling Jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Penelitian menggunakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi herbisida triklopir dengan 3 aras yaitu 6,7 g (K1), 13,4 g (K2), 20,1 g (K3), faktor kedua adalah infus jumlah akar 3 aras yaitu infus 2 akar (T1), infus 4 akar (T2), infus 6 akar (T3), diperoleh 9 kombinasi perlakuan diulang 3 kali dengan 2 sampel, jadi 9 × 3 = 27 kombinasi perlakuan, 27 × 2 = 54 gulma beringin yang dibutuhkan. Data dianalisis dengan sidik ragam <em>(Analysis of Variance)</em> apabila terdapat pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT pada jenjang nyata 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi perlakuan nyata paling merusak gulma adalah konsentrai 20,1 g triklopir dengan infus 4 dan 6 akar.</p> Hari Sulistio, Abdul Mu'in, Idum Satia Santi Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2878 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Pemanfaatan Pupuk Kompos LCC dan NPK terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Gueneensis Jacq) pada Pembibitan Main Nursery di Tanah Regosol https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2879 <p>Pembibitan merupakan tahap awal dalam budidaya kelapa sawit yang memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan tanaman. Pemupukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembibitan kelapa sawit. Penggunaan pupuk anorganik diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman secara cukup dan seimbang. Pupuk organik diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia dalam memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman LCC seperti <em>Mucuna bracteata</em> menjadi kompos karena mempunyai&nbsp; kandungan hara (utamanya Nitrogen) yang relatif tinggi dibandingkan jenis tanaman lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kompos LCC dan NPK serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) di main nursery pada tanah Regosol, serta memperoleh kombinasi dosis yang efektif. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan di KP2 Maguwoharjo INSTIPER Yogyakarta, Laboratorium Perlindungan Tanaman, dan Laboratorium Sentral INSTIPER. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu pupuk kompos LCC dengan dosis 0, 300, 400, dan 500 g serta pupuk NPK dengan dosis 5, 10, dan 15 g. Terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan lima ulangan, sehingga digunakan 60 bibit kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi nyata antara pupuk kompos LCC dan NPK terhadap pertumbuhan bibit. Masing-masing dosis pupuk LCC maupun NPK juga tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan yang diamati. Dengan demikian, dosis pupuk yang digunakan dalam penelitian belum menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tanah regosol.</p> Boy Billclinton Pakpahan, Abdul Mu'in, Fariha Wilisiani Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2879 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Studi Populasi Elaeidobius kamerunicus dan Perilakunya terhadap Bunga Jantan dan Betina Kelapa Sawit di Kebun KP2 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2881 <p style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan mengetahui populasi, perilaku, dan waktu kunjungan <em>Elaeidobius kamerunicus</em> pada bunga kelapa sawit di Kebun KP2. Penelitian dilaksanakan Juni–Juli 2026 menggunakan observasi deskriptif kuantitatif dengan <em>purposive sampling</em>. Pengamatan perilaku dilakukan dengan <em>focal sampling</em> pada pukul 06.00–08.00, 08.00–10.00, dan 10.00–12.00. Data dianalisis menggunakan uji-t dan ANOVA dengan SPSS. Hasil menunjukkan populasi <em>E. kamerunicus</em>lebih tinggi pada bunga jantan (285 individu; 58,04%) dibandingkan bunga betina (206 individu; 41,96%), dengan perbedaan yang signifikan. Pada bunga jantan, kumbang dominan mencari dan memakan serbuk sari serta kawin, sedangkan pada bunga betina melakukan aktivitas terbang, hinggap, berjalan, mengelilingi bunga, dan memanfaatkan nektar. Kunjungan meningkat seiring waktu, dari 22 individu (4,48%) pada 06.00–08.00 menjadi 222 individu (45,21%) pada 08.00–10.00 dan 247 individu (50,31%) pada 10.00–12.00. Bunga jantan berperan sebagai sumber makanan dan habitat, sedangkan bunga betina menjadi lokasi perpindahan serbuk sari.</p> Yuvontrianus Meak, Idum Satya Santi, Sri Gunawan Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2881 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700 Analisis Pengendalian Ulat Kantong (Metisa plana) pada Tanaman Kelapa Sawit (TM) Remaja menggunakan Insektisida Nabati (Ekstrak Daun Pepaya) https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2858 <p>Kelapa sawit (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) merupakan komoditas perkebunan penting yang perlu dijaga dari serangan hama, salah satunya ulat kantong (Metisa plana) yang dapat menyebabkan kerusakan daun dan menurunkan produktivitas tanaman. Salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan adalah penggunaan insektisida nabati dari ekstrak daun pepaya (<em>Carica papaya</em> L.) yang berpotensi mengganggu aktivitas makan dan menyebabkan kematian serangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan konsentrasi yang paling efektif untuk insektisida nabati ekstrak daun pepaya (Carica papaya L) terhadap aktivitas ulat kantong (<em>Metisa plana</em>) pada tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM). Penelitian ini dilakukan di kebun S.E.A.T (<em>Stiper Edu Agro Tourism</em>), Ungaran, Semarang. Penelitian ini menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas lima taraf perlakuan, yaitu perlakuan ekstrak (kontrol), perlakuan ekstrak 10%, perlakuan ekstrak 20%, perlakuan esktrak 30%, dan perlakuan ekstrak40%, dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi insektisida nabati ekstrak daun pepaya mampu meningkatkan mortalitas dan menurunkan tingkat serangan ulat kantong dibandingkan dengan kontrol. Rata-rata mortalitas tertinggi pada perlakuan ekstrak (30%) sebesar 84% dan perlakuan esktrak (40%) sebesar 96%, sedangkan perlakuan P1 (10%) sebesar 47%, perlakuan P2 (20%) sebesar 52% dan P0 (kontrol) tidak menyebabkan kematian larva. Pengamatan gejala menunjukan larva mengalami penurunan. Namun demikian, hasil analisis sidik ragam menujukan perlakuan tidak berbeda nyata terhadap parameter yang diamati pada taraf kepercayaan 95%(P&gt;0.05. Persentase tingkat serangan terendah juga diperoleh pada perlakuan dengan konsentrasi yang lebih tinggi.</p> Aan Andika, Fariha Wilisiani, Alan Handru Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2858 Tue, 29 Sep 2026 00:00:00 +0700