https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/issue/feedAGROFORETECH2026-07-27T11:22:25+07:00Helmi Afroda, S.IP.,M.IPhelmiafroda@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>AGROFORETECH</strong> merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Institut Pertanian STIPER Yogyakarta yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbing dan penguji serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor AGROFORETECH. AGROFORETECH menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari lima Program Studi, yaitu <strong>Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, dan Prodi Kehutanan.</strong></p> <p>AGROFORETECH terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu bulan <strong>Maret, Juni, September, dan Desember<br /></strong></p>https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2668PENGARUH KONSENTRASI ENZIM SELULASE DAN SUMBER NITROGEN TERHADAP KUALITAS BIOETANOL DARI KULIT PISANG UTER (MUSA ACUMINATA X BALBISIANA)2026-07-23T11:04:18+07:00Resvina Adella Br Tariganresvinaadella@gmail.comNgatirahatir@isntiperjogja.ac.idIda Bagus Banyuro Parthaidabagus@gmail.com<p>Bioetanol adalah cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi gula yang berasal dari karbohidrat dengan bantuan mikroorganisme, penelitian ini melakukan inovasi pembuatan bioetanol dari kulit pisang uter dengan penambahan enzim selulase dan nutrisi. Bagian lain dari buah pisang yang juga dapat dimanfaatkan sebagai bioethanol adalah bagian kulit, kulit pisang uter mengandung lignoselulosa yang meliputi liginin, selulosa, dan hemiselulosa. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui pengaruh konsentrasi enzim selulase terhadap bioetanol yang dihasilkan dari kulit pisang uter, mengetahui jenis nitrogen yang baik terhadap sifat-sifat etanol dan menetukan konsentrasi enzim selulase dan jenis nitrogen yang menghasilkan bioetanol sesuai dengan SNI. Percobaan dilakukan dengan mengkombinasikan 2 faktor dengan 3 taraf perlakuan yang diulangi 2 kali sehingga didapatkan 3x3x2 = 18 satuan eksperimental. Analisis yang dilakukan ialah uji densitas, kadar alkohol, kadar gula total, uji pH, dan total asam. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa konsentrasi enzim selulase sangat berpengaruh nyata terhadap kadar alkohol, densitas, pH, kadar gula total dan kadar asam total. Jenis nutrient yang digunakan berpengaruh nyata terhadap kadar alkohol, pH, kadar gula total dan kadar asam total. Sampel yang mendekati standar SNI dengan penambahan 9 ml enzim selulase dan 0,1 % Urea yaitu dengan kadar alkohol 52 %, densitas 0,7492 gr/mL, pH 5,8 dan total asam 0,0014%.</p>2026-07-23T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2598Efektivitas Land Application Pome terhadap Ketersediaan Unsur Hara dan Hasil Tandan Buah Segar di Lahan Ultisol2026-06-19T15:12:04+07:00M. Ulil Azmi Sagalaazmiulil985@gmail.comValensi Kautsarvalkauts@instiperjogja.comHerry Wirianataher.wirianata@gmail.com<p>Ultisol dikenal sebagai tanah dengan keterbatasan kesuburan yang ditandai oleh rendahnya kandungan bahan organik serta kemampuan menyediakan unsur hara bagi tanaman, serta kapasitas tukar kation terbatas. Salah satu upaya perbaikan kesuburan tanah adalah melalui pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) menggunakan sistem land application. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aplikasi POME terhadap ketersediaan unsur hara tanah dan produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Penelitian dilakukan di PT Bio Inti Agrindo, Merauke, Papua Selatan dengan metode komparatif antara blok POME dan blok kontrol. Parameter yang diamati meliputi pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa, serta produksi TBS tahun 2023–2025. Data produksi dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test pada taraf nyata 5%. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi POME meningkatkan kandungan C-organik dan N-total tanah, namun tidak meningkatkan P-tersedia, K-dd, dan produksi TBS secara signifikan (p > 0,05).</p>2026-07-23T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2621Pengaruh Pemberian Pupuk Kompos Pelepah Kelapa Sawit dan Pupuk Urea terhadap Bibit Kelapa Sawit di Pre Nursery2026-07-13T21:16:08+07:00Ikhfan Rahmadaniikhfanramadani86@gmail.comDian Pratama Putradianswn@instiperjogja.ac.idHangger Gahara Mawandhahangger@instiperjogja.ac.id<p>Kajian ini memiliki tujuan guna mengidentifikasi kombinasi perlakuan yang paling efektif antara dosis kompos pelepah kelapa sawit serta pupuk urea dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap<em> pre-nursery</em>. Kegiatan kajian ini dijalankan di kebun percobaan milik Instiper yang berlokasi di Jl. Nangka II, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, selama periode Oktober 2025 hingga Februari 2026. Metode penelitian menerapkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dirancang secara faktorial dengan dua aspek perlakuan. Aspek pertama ialah dosis kompos pelepah kelapa sawit yang tersusun atas empat taraf, yaitu tanpa kompos (0% sebagai kontrol), 25%, 50%, serta 75%. Aspek kedua ialah pemberian pupuk urea dengan empat tingkat dosis, yaitu tanpa urea (0 g sebagai kontrol), 3 g, 6 g, serta 9 g. Kombinasi dari kedua aspek tersebut memperoleh 16 perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak empat kali, sehingga total unit percobaan yang digunakan berjumlah 64 bibit kelapa sawit. Data yang diperoleh dianalisis menerapkan analisis sidik ragam (<em>Analysis of Variance </em>/ ANOVA) pada taraf <em>Sig. </em>5%. Apabila perolehan analisis mengindikasikan adanya interaksi yang signifikan antarperlakuan, maka dilanjutkan dengan uji pembandingan rata-rata menggunakan DMRT pada tingkat kepercayaan 5%. Perolehan analisis mengindikasikan adanya interaksi nyata pada beberapa parameter pengamatan, yaitu tinggi tanaman, berat segar tajuk, serta berat kering tajuk. Kombinasi perlakuan kompos pelepah kelapa sawit sebesar 25% dengan pemberian urea dosis 9 g menghasilkan pertumbuhan terbaik pada parameter tinggi tanaman serta berat segar tajuk. Sementara itu, pertumbuhan optimal pada parameter berat kering tajuk diperoleh dari kombinasi perlakuan kompos 25% dengan dosis urea 6 g.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2628Pengaruh Cara Aplikasi dan Frekuensi Pemberian Pupuk Majemuk pada Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Main Nursery2026-07-14T14:01:19+07:00Adi Pradana Tariganaditarigan1408@gmail.comIdum Satia Santiidum_ss@instiperjogja.ac.idYovi Aviantoyovi@instiperjogja.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cara aplikasi dan frekuensi pemberian pupuk majemuk NPKMg , serta pengaruh masing-masing perlakuan terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>Main nursery</em>. Penelitian dilakuan pada bulan January hingga April 2025 di kebun penelitian dan pendidikan Instiper Yogyakarta, Maguwoharjo, Kec. Depok, Kab Sleman. Penelitian ini menggunakan metode percobaan faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor, yaitu cara aplikasi ditabur, dilarutkan, dibenam dan frekuensi pemberian pupuk 1 minggu sekali, 2 minggu sekali, 3 minggu sekali. Faktor kombinasi yang didapatkan 3 x 3 = 9 perlakuan dengan 4 ulangan sehingga bibit yang di gunakan sebanyak 36 tanaman. Analisis data dilakuan dengan <em>Analysis of Variance</em> pada siginifikan 5% dan akan diuji dengan <em>Duncan’s Multiple Range Test</em> 5% apa bila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukan terdapat interaksi myata antara kombinasi cara aplikasi dan frekuensi pemberian pupuk terhadap parameter luas daun tanaman, dengan hasil terbaik pada kombinasi ditabur dengan 3 minggu sekali, dilarutkan dengan 1 minggu sekali, dibenam dengan 2 minggu sekali, Perlakuan kombinasi ditabur dengan 3 minggu sekali meberikan nilai tertinggi dan terbaik pada pembibitan kelapa sawit <em>main nursery</em>.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2627Pengaruh Trichoderma dan Kompos Ternak Sapi terhadap Serapan Nitrogen pada Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Main Nursery2026-07-14T13:12:19+07:00Ahmad Ivandiivanpjr608@gmail.comGalang Indra Jayagalang@instiperjogja.ac.idSri Manu Rohmiyatisrimanu@instiperjogja.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji pengaruh dosis <em>Trichoderma</em> maupun kompos sapi terhadap perkembangan persemaian kelapa sawit dan penyerapan nitrogen. Studi ini dilakukan di Kebun Pendidikan dan Studi INSTIPER (KP2) dari Januari hingga April 2026. Dosis kompos sapi dan <em>Trichoderma</em> diuji dalam desain faktorial pada Rancangan Acak Lengkap. Elemen pertama adalah dosis pupuk kandang sapi (1 kg, 1,5 kg, 2 kg), dan elemen kedua adalah dosis <em>Trichoderma</em> (25 g dan 35 g). Kombinasi kedua mencakup 6 variabel perlakuan dan 4 ulangan untuk 24 unit percobaan. Jika ditemukan perbedaan yang signifikan dilanjutkan ANOVA dengan tingkat signifikansi 5% diikuti oleh Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). Terdapat hubungan yang substansial pada tinggi bibit, meskipun dosis pupuk kandang sapi dan <em>Trichoderma</em> tidak memengaruhi metrik lainnya. Di persemaian utama, 1 kilogram pupuk kandang sapi dan 25 gram <em>Trichoderma </em>meningkatkan perkembangan bibit kelapa sawit</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2644Pengaruh Aplikasi Trichoderma Sp dan Serbuk Gergaji terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursey 2026-07-17T14:32:09+07:00Raflyano Rama Bierkhamraflianrama@gmail.comPauliz Budi Hastutipauliz@instiperjogja.ac.idSri Manu Rohmiyatisrimanunuk@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis <em>Trichoderma</em> dan serbuk gergaji pada pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>Main nursery</em>, dilaksanakan di kebun pendidikan dan penelitian (KP2) Desa Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, pada Januari sampai April 2026. Penelitian menggunkan rancangan percobaan faktorial, yaitu <em>Trichoderma</em> terdiri dari 4 dosis 0,10,15 dan 20g, serbuk gergaji terdiri 4 dosis 0% + NPK sebagai kontrol, 25, 33 dan 50%. Dari perlakuan tersebut diperoleh 16 kombinasi. Kombinasi perlakuan diulang 3x sehingga terdapat 48 tanaman. Data hasil penelitian dianalisis menggunakkan sidik ragam (ANOVA) pada jenjang nyata 5%. Perlakuan yang berbeda nyata diuji lanjut DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian <em>Trichoderma </em>dan serbuk gergaji menghasilkan interaksi nyata pada parameter tunggi bibit dan luas daun, kombinasi <em>Trichoderma </em>dosis 10g dan serbuk gergaji 0% menghasilkan tinggi bibit tertinggi 41,77 cm. Sementara itu luas daun tertinggi di peroleh pada kontrol 564,19 cm<sup>2</sup>. Pemberian <em>Trichoderma </em>secara tunggal tidak berbeda nyata kesebagian besar parameter, namun berbeda nyata di parameter luas daun bibit kelapa sawit. Pemberian serbuk gergaji berbeda nyata terhdap berat segar dan berat kering tajuk.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2648Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Main Nursery terhadap Pemberian Pupuk Organik pada Lapisan Tanah yang Berbeda2026-07-20T12:20:51+07:00M Galih Mahendramahendragalih68@gmail.comSri Manu Rohmiyatisrimanunuk@gmail.comEty Rosa Setyawatietyrosasetyawati@gmail.com<p>Riset ini berencana guna melihat dan mengamati pengaruh dari berbagai pupuk organik di lapisan tanah yang berbeda pada tumbuh kembang bibit tanaman kelapa sawit tahap <em>main nursery </em>pada tanah regosol. Penelitian ini bertempat di KP2 Maguwoharjo Institut Pertanian Stiper Yogyakarta pada bulan Januari s/d April 2026. Riset ini memakai rancangan percobaan faktorial rancangan acak lengkap (RAL) yang dengan dua faktor perlakuan. Faktor 1 meliputi macam pupuk organik yang terdiri dari 3 macam berupa pupuk kandang ayam, azolla, dan pupuk kompos limbah pasar. Faktor kedua yaitu lapisan tanah yang terdiri dari 3 lapisan, kedalaman 0-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm. Pengujian memberikan hasil yang dimana terdapat hasil signifikan antara kombinasi macam pupuk organik pada lapisan tanah pada berat segar akar, berat kering akar, dan volume akar bibit kelapa sawit <em>main nursery. </em>Hasil penelitian membuktikan bahwa pemberian pupuk organik azolla memberikan pengaruh nyata terhadap panjang akar dan luas daun bibit kelapa sawit <em>main nursery</em>. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan lapisan tanah pada kedalaman 0-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm berpengaruh sama terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>main nursery</em></p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2650Analisis Perbandingan Biaya Pengendalian Gulma Perkebunan Kelapa Sawit dengan Manual, Kimia, dan Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit2026-07-20T14:50:15+07:00Vincent Devyn Binsar Ladodevyncent18@gmail.comBetti Yuniasihbetti@instiperjogja.ac.idHangger Gahara Mawandhahangger@instiper.ac.id<p>Pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan yang memerlukan biaya operasional cukup besar pada perkebunan kelapa sawit. Perbedaan metode pengendalian menyebabkan perbedaan kebutuhan tenaga kerja, penggunaan bahan, dan biaya operasional sehingga diperlukan analisis biaya sebagai dasar dalam menentukan metode yang lebih ekonomis. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan biaya pengendalian gulma menggunakan metode manual, kimia, dan sistem integrasi sapi kelapa sawit (SISKA). Penelitian dilaksanakan di PT Equalindo Makmur Alam Sejahtera, Estate Rahayu, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur pada Januari–Maret 2025. Penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari dokumen operasional perusahaan meliputi biaya tenaga kerja, penggunaan bahan, biaya operasional, luas areal, dan rotasi pengendalian gulma. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan total biaya dan biaya pengendalian per hektar pada masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode manual memiliki biaya pengendalian gulma paling rendah, yaitu sebesar Rp432.622.193,95/tahun atau Rp1.243.167,22/ha/tahun, sedangkan metode kimia memiliki biaya tertinggi sebesar Rp926.687.532,38/tahun atau Rp2.663.194,35/ha/tahun. Metode SISKA memerlukan biaya sebesar Rp596.927.280,00/tahun atau Rp1.715.308,28/ha/tahun, sehingga 35,59% lebih rendah dibandingkan metode kimia, namun 37,98% lebih tinggi dibandingkan metode manual. Dengan demikian, metode manual merupakan metode dengan biaya pengendalian terendah, sedangkan SISKA menjadi alternatif yang lebih ekonomis dibandingkan metode kimia serta berpotensi mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2657Pengaruh Naungan dan Frekuensi Penyiraman terhadap Pertumbuhan Pueraria Javanica2026-07-22T04:52:37+07:00M. Rahmatul Ham Hidayatmuhammaddayat502@gmail.comSri Suryantintie@instiperjogja.ac.idBetti Yuniasihbetti@instiperjogja.ac.id<p style="margin: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; line-height: normal;"><em><span style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif;">Pueraria javanica</span></em><span style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif;"> dikenal sebagai salah satu tanaman penutup tanah dari kelompok legum yang memiliki peran penting dalam memperbaiki kesuburan tanah, terutama melalui kemampuannya mengikat nitrogen dari udara. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana kombinasi tingkat naungan dan frekuensi penyiraman memengaruhi pertumbuhan tanaman tersebut. Kegiatan penelitian berlangsung di KP2 Institut Pertanian STIPER, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama Maret hingga Juni 2025. Metode yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (<em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">split plot</span></em>) dengan tiga kali ulangan. Faktor utama berupa tingkat naungan, yang terdiri atas tanpa naungan, penggunaan paranet 25%, dan paranet 50%. Adapun faktor kedua adalah frekuensi penyiraman, yaitu dua kali sehari, satu kali sehari, dua hari sekali, dan tiga hari sekali, dengan volume air tetap sebesar 40 ml per hari. Pengamatan difokuskan pada beberapa parameter pertumbuhan, meliputi panjang sulur, jumlah daun, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar, kadar lengas tanah, jumlah stomata, serta perbandingan antara akar dan tajuk. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara tingkat naungan dan frekuensi penyiraman terhadap seluruh parameter yang diamati. Namun, masing-masing perlakuan secara terpisah memberikan respons yang berbeda. Naungan terbukti memengaruhi pertumbuhan tanaman, di mana penggunaan paranet 25% dan 50% cenderung menghasilkan sulur yang lebih panjang dibandingkan tanpa naungan. Di sisi lain, variasi frekuensi penyiraman juga berpengaruh, dengan penyiraman satu kali sehari memberikan hasil paling optimal pada bobot kering tanaman, baik pada bagian tajuk maupun akar. Temuan ini mengindikasikan bahwa <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">Pueraria javanica</span></em> mampu beradaptasi dengan kondisi intensitas cahaya yang lebih rendah. Oleh karena itu, tanaman ini memiliki potensi untuk dikembangkan pada lahan perkebunan, khususnya di bawah naungan kelapa sawit, tanpa mengalami penurunan pertumbuhan yang berarti.</span></p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2661Pengaruh Berbagai Sumber Biochar dan Dosis Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre Nursery Sistem Tray 2026-07-22T14:35:21+07:00Abdi Qori Manurungqori.instiper@gmail.comNeny Andayanineny_and@instiperjogja.ac.idFani Ardianifani@instiperjogja.ac.id<p>Tanah ultisol merupakan tanah marginal yang sering digunakan sebagai media tanam pembibitan tanaman kelapa sawit. Penggunaan <em>biochar</em> sebagai pembenah tanah merupakan salah satu strategi yang efektif dalam memperbaiki kualitas tanah ultisol. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai sumber <em>biochar</em> dan dosis pupuk NPK serta interaksinya terhadap pertumbuhan pada fase <em>pre nursery</em> bibit kelapa sawit (<em>Elaeis guineensis</em> Jacq.) dengan sistem <em>tray</em>. Penelitian dilakukan selama 3 bulan di <em>Nursery</em> Perkebunan Kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Metode penelitian yang diterapkan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdapat dua faktor pengujian, yaitu berbagai sumber <em>biochar</em> sebagai faktor pertama yang meliputi tanpa <em>biochar</em>, <em>biochar</em> pelepah kelapa sawit, <em>biochar</em> sekam padi, dan <em>biochar</em> tongkol jagung, serta dosis pupuk NPK sebagai faktor kedua yang meliputi dosis 0 g, 0,01 g, 0,03 g dan 0,05 g yang dilarutkan ke dalam air dengan volume 50 ml per tanaman. Pengulangan dilakukan sebanyak tiga kali pada setiap kombinasi perlakuan, sehingga total satuan percobaan yang digunakan berjumlah 48. Campuran tanah ultisol dan <em>biochar</em> dengan komposisi volume yang sama, yaitu 1:1. Pengolahan data dilakukan melalui analisis varians (ANOVA) dengan tingkat signifikansi 5%, yang selanjutnya diikuti uji <em>Duncan's Multiple Range Test</em> (DMRT) pada tingkat signifikansi 5% untuk membandingkan rerata perlakuan yang berbeda nyata. Hasil analisis mengindikasikan terdapat interaksi tidak nyata antara berbagai sumber <em>biochar</em> dan dosis pupuk NPK pada seluruh parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit. Sumber <em>biochar</em> berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dengan hasil terbaik pada <em>biochar</em> sekam padi. Sementara itu, dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter mulai dari diameter batang, jumlah daun, dan berat segar tanaman, dengan pertumbuhan terbaik didapatkan pada dosis 0,05 g yang tidak berbeda nyata dengan 0,03 g per tanaman</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2608Pengaruh Aplikasi Dosis Pupuk Abu Janjang Sawit dan Dosis Pupuk K terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Main Nursery2026-06-30T15:00:38+07:00Mhd. Rei Prana Manurungmhdreiprana@gmail.comAbdul Mu'inab.muin@yahoo.comPauliz Budi Hastutipauliz@instiperjogja.ac.id<p>Peneliti ingin menganalisis yang bertujuan mengetahui pengaruh dosis pupuk abu janjang sawit dan pupuk K terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>main nursery</em> dengan menggunakan tanah regosol. Penelitian dilakukan di lahan percobaan milik Institut Pertanian Yogyakarta instiper, yang berada di Maguwoharjo, Kec. Depok, Kab. Sleman, Yogyakarta dalam rentang waktu Januari 2026 sampai April 2026. Metode penelitian adalah percobaan faktorial menggunakan susunan Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama yaitu dosis pupuk abu janjang sawit (A) terdiri dari 4 Aras : 0,0 gram (A1), abu janjang sawit 100 gram (A2), abu janjang sawit 125 gram (A3), abu janjang sawit 150 gram (A4), dan faktor kedua adalah dosis pupuk Kalium (K) dengan 3 Aras : 10 gram kalium (K1), 30 gram Kalium (K2), 50 gram Kalium (K3). Maka diperoleh dua belas kombinasi dari kedua faktor, pada masing-masing kombinasi kedua faktor diulang sebanyak 4 ulangan, sehingga total sampel berjumlah 48 sampel. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam (<em>Analysis of Variance</em>) dengan alfa 0.05. Apabila terjadi pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (<em>Duncan’s Multiple Range Test</em>) dengan alfa 0.05. Data yang diperoleh menunjukkan dari 12 kombinasi perlakuan tidak terjadi interaksi yang nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Faktor dosis pupuk abu janjang sawit memberikan pengaruh nyata pada beberapa parameter yakni, pertambahan jumlah daun, berat segar tanaman, berat segar tajuk, berat kering bibit, dan berat kering tajuk. Selanjutnya faktor dosis pupuk K menunjukkan pengaruh yang relatif sama terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>main nursery</em>.</p> <p> </p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2660Efektifitas dan Efisiensi Penggunaan Beberapa Jenis Alat Penyemprotan dalam Pengendalian Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit2026-07-22T11:02:02+07:00Okta Triaxa Putra Goestafooctatriputrasilalahi@gmail.comHangger Gahara Mawandhahangger@instiperjogja.ac.idAbdul Mu'inab.muin@yahoo.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi penggunaan beberapa jenis alat penyemprotan dalam pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan diperkebunan kelapa sawit, desa Tambusai Kecamatan Rumbio Jaya Kabupaten Kampar Riau. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung mulai bulan febuari 2026 hingga maret 2026. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan satu faktor yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 5 perlakuan yaitu knapsak sprayer manual, knapsack sprayer otomatis, knapsack sprayer bermotor, mesin semprot bermotor bertekanan tinggi, dan mesin babat masing – masing diulang sebanyak Tiga kali dengan total 15 perlakuan. Parameter yang diamati termasuk analisis vegetasi gulma (SDR), kalibrasi alat, rentang kerja, lamanya waktu kerja, dosis larutan herbisida, dan tingkat kerusakan gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas gulma di lokasi penelitian diklasifikasikan sebagai homogen dengan dominasi utama Ageratum conyzoides dan Imperata cylindrica. Alat mesin semprot bermotor bertekanan tinggi menunjukkan kinerja terbaik dengan waktu kerja tercepat (4,8–5,8 detik). Di sisi lain, mesin babat memiliki waktu kerja terpanjang dan rentang kerja terendah, meskipun memberikan efek kerusakan gulma langsung. Secara keseluruhan, penggunaan alat penyemprot berbasis mesin terbukti lebih efektif dan efisien daripada alat manual, baik dalam hal waktu kerja, kapasitas jangkauan, dan penggunaan herbisida.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2669Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery terhadap Pemberian Biourin Kambing pada Berbagai Jenis Tanah2026-07-23T11:09:16+07:00Rico Bastian Bangunricobastianbangun@gmail.comAbdul Mu'inabdulmuinklengkeng@gmail.comDian Pratama Putradianswn@instiperjogja.ac.id<p>Kelapa sawit (<em>Elaeis guinensis</em> jacq) merupakan salah satu jenis palm yang memproduksi minyak untuk kepentingan bisnis. Selain berfungsi sebagai minyak untuk makanan seperti margarin, minyak sawit juga dimanfaatkan dalam industri sabun, lilin, pembuatan lembaran timah, serta produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antar biourin kambing dan jenis tanah serta untuk mengetahui dosis biourin kambing dan jenis tanah yang paling baik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di <em>pre nursery</em>. Penelitian ini dilakukan di kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Institut Pertanian STIPER yang terletak di desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada 05 Januari 2025 hingga 05 April 2026. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama pemberian dosis Biourine kambing (D), yang terdiri dari 4 Dosis yaitu 150 ml/tanaman (D1), 175 ml/tanaman (D2), 200 ml/tanaman (D0), NPK 2,25 g/tanaman (kontrol). Faktor kedua adalah jenis tanah (T) yang terdiri dari 3 jenis yaitu tanah Regosol (T1), Latosol (T2) dan Grumusol (T3). Dari kedua faktor tersebut diperoleh 4x3=12 kombinasi perlakuan, setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan tiap ulangan menggunakan 2 sampel tanaman. sehingga jumlah tanaman yang dibutuhkan dalam penelitian adalah 12 x 3 x 2 = 72 Bibit. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam atau <em>analist of variance</em> (anova) dan apabila pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda <em>Duncan’s Multiple Range Test</em> (DMRT) pada jenjang nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan Pemberian biourin kambing memberikan pengaruh nyata pada parameter volume akar tanaman. Perlakuan tanpa tambahan (D0) menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dosis lainnya dan Jenis tanah Latosol (T2) menunjukan kondisi tanah terbaik pada semua parameter tanaman jika dibandingkan dengan Regosol (T1) dan Grumusol (T3).</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2671Pengaruh Aplikasi Pupuk Daun terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Pre Nursery dengan Media Pot Tray2026-07-23T21:17:51+07:00Mhd. Rezky Akbarmuhammadrezkyakbar2303@gmail.comNeny Andayanineny_and@instiperjogja.ac.idFani Ardianifani@instiperjogja.ac.id<p>Bibit kelapa sawit yang berkualitas pada fase <em>pre-nursery</em> merupakan faktor penentu keberhasilan pertumbuhan tanaman di lapangan. Kualitas bibit dapat dicapai melalui manajemen pemupukan yang tepat, salah satunya melalui aplikasi pupuk daun dengan formula NPK 32-10-10 yang memiliki konsentrasi Nitrogen tinggi untuk mendukung pembentukan klorofil. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk memahami pengaruh aplikasi pupuk daun tersebut dengan berbagai konsentrasi dan interval waktu terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada media <em>pot tray</em>. Percobaan dilaksanakan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) <em>split plot</em>. Faktor pertama (<em>main plot)</em> merupakan konsentrasi pupuk daun yang terdiri dari 4 macam perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1 (0,125%), P2 (0,2%), dan P3 (0,25%). Faktor kedua (<em>sub plot)</em> adalah interval aplikasi yang terdiri dari 3 macam perlakuan yaitu R1 (4 hari sekali), R2 (7 hari sekali), dan R3 (10 hari sekali). Pengujian data menggunakan <em>Analysis of Variance</em> (ANOVA) dan jika ditemukan dampak yang signifikan, dilanjutkan dengan Uji Rentang Berganda<em> Duncan</em> (DMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil kajian penelitian menyimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi nyata dan pengaruh nyata antara pemberian konsentrasi dan interval aplikasi terhadap parameter pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang), maupun biomassa bibit. Namun, aplikasi pupuk daun memberikan pengaruh nyata terhadap parameter volume akar dan warna daun.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2676Keanekaragaman Tumbuhan Pakuan pada Kebun Kelapa Sawit Lahan Gambut dan Mineral2026-07-24T12:00:56+07:00Muhammad Henky Prananda Hrpnandaharahap213@gmail.comBetti Yuniasihbetti@instiperjogja.ac.idHangger Gahara Mawandhahangger@instiperjogja.ac.id<p>Tumbuhan pakuan (<em>Pteridophyta</em>) termasuk kelompok vegetasi yang sering ditemukan di area perkebunan kelapa sawit, khususnya pada habitat yang memiliki kondisi lembap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan pakuan yang berada pada areal gawangan mati pada fase tanaman muda dan fase tanaman remaja di lahan gambut dan mineral. Serta mengetahui potensi dari tumbuhan pakuan yang ditemukan pada perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei vegetasi lantai untuk mengumpulkan data dengan pengamatan langsung di lapangan melalui analisis vegetasi dengan metode kuadrat pada kebun kelapa sawit muda (9 tahun) dan remaja (11 tahun) dengan lahan gambut dan mineral. Tumbuhan pakuan pada lapangan diidentifikasi menggunakan aplikasi PlantNet. Analisis potensi dilakukan untuk mengidentifikasi dan menilai potensi ekologis dan ekonomis pada tumbuhan pakuan. Hasil penelitian menunjukkan pakuan yang ditemukan ada 4 family dan 6 spesies, <em>Nephrolepis biserrata, Davallia solida, Nephrolepis cordifolia, Asplenium platyneuron, Stenochlaena palustris, Dryopteris cristata</em>. Koefisien komunitas menunjukkan spesies penyusun komunitas pakuan tidak seragam antara komunitas pakuan di lahan mineral dan gambut menunjukkan komunitas yang berbeda karena habitat yang berbeda. Keberadaan tumbuhan pakuan memiliki peran ekologis dalam menjaga kelembapan, kestabilan, dan kesuburan tanah serta mempertahankan kondisi iklim mikro. Tingginya kelembapan, curah hujan yang memadai, dan kandungan C-organik lahan gambut turut mendukung pertumbuhan dan penyebaran tumbuhan pakuan.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2681Pengaruh Berbagai Metode Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre Nursery pada Lapisan Top Soil dan Sub Soil2026-07-24T15:29:32+07:00Nendra Dwi Adityanendraaditya926@gmail.comAchmad Himawanachmad@gmail.comEnny Rahayuennyrahayu000@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara metode aplikasi pupuk organik cair (POC) dan jenis lapisan tanah (topsoil dan subsoil), serta untuk menentukan metode aplikasi POC dan jenis lapisan tanah terbaik dalam merangsang pertumbuhan bibit kelapa sawit pada fase pre-nursery. Penelitian menggunakan rancangan faktorial dengan dua faktor, yaitu metode aplikasi POC (kontrol, spray ke daun, aplikasi langsung ke media tanam, dan injeksi ke tanah) dan jenis lapisan tanah (topsoil dan subsoil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi nyata antara kedua faktor hanya terjadi pada parameter jumlah daun, di mana kombinasi topsoil dengan metode injeksi ke tanah menghasilkan jumlah daun tertinggi. Metode aplikasi POC tidak menghasilkan perbedaan yang nyata pada sebagian besar parameter pertumbuhan menunjukkan bahwa bibit pada fase pre-nursery belum merespons perbedaan cara aplikasi POC secara signifikan. Sebaliknya, jenis lapisan tanah memberikan pengaruh yang lebih dominan, dengan topsoil secara konsisten memperlihatkan pertumbuhan yang lebih baik daripada subsoil pada beberapa parameter pertumbuhan, yang mencakup tinggi bibit, bobot segar, bobot kering, dan lebar daun. Dengan demikian, topsoil merupakan media tanam paling optimal untuk mendukung pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap awal pembibitan.</p>2026-07-24T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2680Respon Pertumbuhan dan Produksi Sawi Pagoda terhadap Dosis Pupuk Organik Cair Cangkang Telur dan Jenis Tanah yang Berbeda2026-07-24T18:20:29+07:00Bulan Adria Ananda Putribulanadriaa@gmail.comFani Ardianifani@instiperjogja.ac.idWiwin Dyah Ully Parwatiully.parwati@gmail.com<p>Penelitian ini berfokus untuk mengevaluasi bagaimana respons pertumbuhan dan hasil panen sawi pagoda setelah diaplikasikan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar cangkang telur pada berbagai kondisi jenis tanag. Adapun kegiatan penelitian dilangsungkan di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) INSTIPER selama periode Januari hingga Februari 2026. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis POC cangkang telur dan jenis tanah dengan beberapa ulangan. Faktor dosis POC cangkang telur terdiri dari 4 aras yaitu, 0 ml (kontrol), 50 ml, 100 ml dan 150 ml. Sedangkan faktor jenis tanah terdiri dari 2 aras yaitu tanah regosol dan latosol. Dari kedua faktor tersebut disusun menjadi 8 (4x2) kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali ulangan setiap perlakuannya. Data analisis menggunakan <em>Analysis of variance</em> (ANOVA) dengan taraf 5% yang dilanjutkan menggunakan uji <em>Duncan Multiple Range Test</em> (DMRT), jika terdapat perbedaan nyata. Berdasarkan analisis data, tidak ditemukan interaksi yang signifikan antara pemberian POC cangkang telur dan jenis tanah terhadap keseluruhan parameter yang diamati. Pemberian POC berbahan cangkang telur hanya berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan diameter tajuk, sedangkan jenis tanah menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah daun, berat akar, berat basah tanaman, dan diameter tajuk. Secara deskriptif, dosis POC 50 ml cenderung menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya.</p>2026-07-27T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2694Pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit terhadap Kesuburan Fisik dan Kimia Tanah Pasiran2026-07-27T11:22:25+07:00Aura Anindita Siregarauraanindita204@gmail.comEnny Rahayuennyrahayu000@gmail.comFani Ardianifani@instiperjogja.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam kompos dan lama inkubasi terhadap kesuburan fisik dan kimia tanah pasiran. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Institut Pertanian Stiper Yogyakarta pada periode Januari sampai Maret 2026. Desain penelitian yang diterapkan yaitu Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama berupa jenis kompos yang terdiri atas 4 taraf, meliputi kontrol, kompos tkks, kompos kotoran sapi dan kompos <em>Mucuna bracteata</em>. Faktor kedua berupa waktu inkubasi yang memiliki 3 taraf, meliputi 4 minggu, 8 minggu dan 12 minggu. Kombinasi dari kedua faktor tersebut menghasilkan 12 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga total unit percobaan yang digunakan berjumlah 36 sampel. Evaluasi kelas kesuburan tanah mengacu pada kriteria harkat klas kesuburan tanah. Analisis data dilakukan dengan uji ANOVA pada taraf 5%. Apabila terdapat pengaruh nyata antar perlakuan, makan dilanjut dengan uji beda DMRT. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik tanah berubah tekstur, BV, BJ dan porositas. Selain itu juga diamati sifat kimia tanah meliputi pH tanah, kandungan C-organik dan KTK tanah.</p>2026-07-28T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH