https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/issue/feedAGROFORETECH2025-12-17T12:37:32+07:00Helmi Afroda, S.IP.,M.IPhelmiafroda@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>AGROFORETECH</strong> merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Institut Pertanian STIPER Yogyakarta yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbing dan penguji serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor AGROFORETECH. AGROFORETECH menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari lima Program Studi, yaitu <strong>Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, dan Prodi Kehutanan.</strong></p> <p>AGROFORETECH terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu bulan <strong>Maret, Juni, September, dan Desember<br /></strong></p>https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2319Analisis Vegetasi pada Lahan Bekas Tambang Pasir di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta2025-12-12T13:35:29+07:00Tarisa Indriani Dewitarisaindrianidewi@gmail.comSuprih Wijayaniwiwik.swijayani@gmail.comMuhammad Darul Falahfalah@instiperjogja.ac.id<p>Analisis vegetasi merupakan metode penting untuk menilai struktur komunitas tumbuhan, dominansi spesies, serta dinamika suksesi pada ekosistem yang mengalami degradasi, termasuk lahan bekas tambang pasir yang intensif dieksploitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi jenis, spesies dominan, dan tingkat keanekaragaman vegetasi di lahan bekas tambang pasir Desa Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan. Metode systematic random sampling dengan rancangan nested plot digunakan untuk mengamati empat tingkat pertumbuhan: semai, pancang, tiang, dan pohon. Hasil penelitian menemukan 13 spesies dari 6 famili, dengan dominansi kuat oleh <em>Falcataria moluccana, Acacia mangium</em>, dan <em>Acacia decurrens</em> yang menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi pada lahan berpasir miskin hara. Nilai keanekaragaman jenis (H’) berada pada kategori rendah hingga sedang, sedangkan kemerataan jenis (E’) tergolong sedang hingga tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa proses regenerasi telah berlangsung dan struktur komunitas vegetasi mulai menunjukkan kestabilan awal, sehingga lahan memiliki potensi besar untuk dipulihkan melalui program revegetasi berkelanjutan.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2320Pertumbuhan Tegakan Balsa (Ochroma pyramidale) Umur 3 dan 4 Tahun di Desa Sepatnunggal Kecamatan MajenangKabupaten Cilacap2025-12-12T15:19:06+07:00Kevin Heru Deardo Purbakevinherudeardopurba@gmail.comSiman Suwadjibuplue099@gmail.comM. Darul Falahfalah@instiperjogja.ac.id<p>Hutan rakyat merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah terhadap tekanan sumber daya hutan. Manfaat yang bisa diperoleh dari pengelolaan hutan rakyat antara lain pemenuhan kebutuhan kayu, peningkatan pendapatan masyarakat, dan peningkatan produktivitas lahan milik masyarakat. Pohon Balsa adalah tanaman penghasil kayu ringan yang dikenal dengan nama kayu Balsa, memiliki nama ilmiah <em>Ochroma </em><em>pyramidale</em>. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis keragaman pertumbuhan diameter,tinggi dan volume pohon balsa pada umur 3 dan 4 tahun serta menguji pengaruh diameter terhadap volume kayu sebagai dasar pendugaan produktivitas tegakan balsa..Penelitian ini menggunakan metode sensus dengan mengambil seluruh populasi yang ada di setiap umur. Analisis regresi sederhana dan kuadratik. Hasil analisis regresi sederhana pada umur 3 tahun nilai R sebesar 0,868 analisis kuadratik 0,901. Pada umur 4 tahun analisis regresi sederhana nilai R sebesar 0,925 analaisis kuadratik 0,901 hasil R merupakan nilai koefesien korelasi yang menunjukan besarnya pengaruh diameter terhadap volume pohon Balsa. Dari hasil analisis regresi sederhana dan analisis kuadratik, nilai R Square paling besar didapatkan dari analisis kuadratik. Dengan persamaan kuadratik umur 3 tahun yaitu : Y=0,432-78,533X+1349,375X<sup>2 </sup>dan persamaan kuadratik umur 4 tahun yaitu : Y=0,432+78,533+1349,375X<sup>2</sup></p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2330Efektivitas Penyuluhan Kehutanan dalam Kinerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Agro Makmur Desa Kalirejo Kabupaten Kulonprogo2025-12-17T12:37:32+07:00Gustavus Charisman Manaogustavcharisman09@gmail.comYuslinawariyuslinawari@instiperjogja.ac.idAgus Prijonoprijono.stiper@gmail.com<p>Penyuluhan merupakan proses pemberian penerangan kepada masyarakat tentang hal yang belum dipahami untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan produksi dan pendapatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penyuluhan kehutanan dalam meningkatkan kinerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Agro Makmur di Desa Kalirejo, Kabupaten Kulon Progo. KTH Agro Makmur dibentuk tahun 2019 sebagai wadah masyarakat dalam mengembangkan potensi perhutanan sosial sekaligus menjaga kelestarian hutan melalui pengelolaan berbasis masyarakat. Penyuluhan kehutanan berperan penting dalam pemberdayaan petani hutan untuk meningkatkan kemampuan organisasi, pengetahuan usaha, dan partisipasi dalam kegiatan konservasi. Metode penelitian menggunakan pendampingan melalui peran penyuluh sebagai fasilitator, motivator, dan edukator. Hasil uji efektivitas menunjukkan penyuluh sebagai fasilitator mencapai 91%, motivator 90%, dan edukator 90%. Dengan efektivitas di atas 75%, penyuluh dinilai efektif dalam ketiga perannya. Penyuluhan terbukti meningkatkan kinerja KTH dalam aspek partisipasi anggota, koordinasi organisasi, serta penguatan kegiatan usaha dan konservasi hutan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penyuluhan kehutanan sangat diperlukan sebagai upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kapasitas petani hutan agar mampu menghadapi tantangan pengelolaan hutan rakyat secara mandiri dan produktif.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2305Pengaruh Kompos Jerami Padi pada Media Tanam dan Volume Penyiraman terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery2025-11-27T01:21:22+07:00Andry Siborosiborobalut@gmail.comFani Ardianifani@instiperjogja.ac.idAchmad Himawanwawanhimawan2014@gmail.com<p>Studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bibit kelapa sawit menanggapi pemberian kompos jerami padi dalam berbagai konsentrasi, serta perubahan dalam volume air yang digunakan untuk penyiraman selama fase <em>pre-nursery</em>. Pemibitan adalah tahap penting dalam fase produksi tanaman kelapa sawit, yang memengaruhi produktivitas dan kualitas bibit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan bentuk faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan untuk memperoleh hasil yang terukur dan sistematis. Adapun faktor yang pertama ialah penggunaan konsentrasi kompos jerami padi yang terdiri dari,0% (J1), 25% (J2), 35% (J3), dan 50% (J4). Faktor kedua adalah volume penyiraman dengan tiga aras, yakni 100 ml (V1), 200 ml (V2), dan 300 ml (V3). Setiap kombinasi perlakuan diberikan lima ulangan untuk memastikan hasil penelitian memiliki tingkat ketelitian yang memadai. Kemudian, <em>Analysis of Variance</em> (ANOVA) digunakan untuk menganalisis data pertumbuhan bibit. Jika ada perbedaan yang signifikan, analisis dilanjutkan dengan Uji <em>Duncan's Multiple Range Test</em> (DMRT) pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik konsentrasi kompos jerami padi maupun variasi volume penyiraman tidak berdampak signifikan pada semua parameter pertumbuhan yang diamati. Selain itu, hasil analisis tanah menunjukkan bahwa kandungan C-Organik berubah sebelum dan setelah perlakuan; kadar lengas tetap sekitar 10 hingga 13%, dan pH tanah juga relatif stabil, tetap di antara 6,5 dan 7</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2308Pengaruh Dosis Pupuk Kascing dan Giberelin terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Antigonon leptopus Hook et Arn2025-12-04T15:13:02+07:00Bagus Suryo Laksonolaksonobagus83@gmail.comPauliz Budi Hastutipauliz@instiperjogja.ac.idUmi Kusumastuti Rusmariniumikusumastuti.rusmarini@gmail.com<p>Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kombinasi dosis pupuk kascing dan giberelin yang terbaik untuk pertumbuhan dan pembungaan <em>Antigonon leptopus, </em>serta dosis pupuk kascing yang baik dan konsentrasi giberelin yang baik untuk pertumbuhan dan pembungaan tanaman <em>Antigonon leptopus</em>. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama periode Mei hingga September 2025 di area KP 2 Institut Pertanian Stiper yang berlokasi di wilayah Kalikuning, Ngemplak, Kabupatem Sleman, DI Yogyakarta pada elevasi 188 mdpl. Penelitian ini mengadopsi Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama menggunakan tiga level dosis pupuk kascing (50, 100, dan 150) g/tanaman, sedangkan faktor kedua menerapkan tiga tingkat konsentrasi giberelin (1, 2, dan 3,5) ml/l. penelitian menghasilkan 45 unit percobaan dari 9 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5% dan bila signifikan dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan dosis pupuk kascing dan giberelin pada jumlah daun, dosis terbaik pada pupuk kascing yaitu 50 gram/tanaman dan 100 gram/tanaman yang dikombinasikan dengan giberelin 3,5 ml/l, pemberian dosis pupuk kascing 100 gram/tanaman dan 150 gram/tanaman menghasilkan respons yang setara pada pertumbuhan dan jumlah bunga tanaman <em>Antigonon leptopus</em> Hook <em>et</em> Arn, Aplikasi konsentrasi giberelin 3,5 ml/l berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman, berat kering tajuk, umur berbunga, dan jumlah bunga tanaman <em>Antigonon leptopus</em> Hook <em>et</em> Arn.</p> <p><strong> </strong></p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2312Kajian C-Organik Abu Tandan Kosong Kelapa Sawit terhadap Kondisi Kesuburan Tanah dan Penentu Harkat Kualitas Tanah2025-12-08T22:01:22+07:00Leni Widiawatileniwidiawati46@gmail.comDian Pratama Putradianswn93@gmail.comEnny Rahayuennyrahayu000@gmail.com<p>Diharapkan bahwa penggunaan abu kelapa sawit akan meningkatkan tingkat pH tanah dan meningkatkan kandungan basa tanah. Perubahan ini dapat meningkatkan kapasitas pertukaran kation efektif dan saturasi basa. Tanah yang baik mengandung nutrisi yang cukup untuk tanaman. Beberapa nutrisi paling penting dalam tanah adalah nitrogen, fosfor, dan kalium. Tujuan studi ini adalah menganalisis kandungan karbon organik dan menentukan kandungan nutrisi dari tandan buah kelapa sawit kosong, serta kualitas kesuburan bahan organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas tanah regosol. Penelitian ini dilakukan di laboratorium di Pusat Penelitian Kutanam (Jl. Nitiprayan No. 89, Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) dari Januari hingga Februari 2025. Desain penelitian menggunakan desain faktorial yang disusun dalam desain acak lengkap (CRD) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah durasi inkubasi tanah, dengan empat tingkat: satu, dua, tiga, atau empat minggu. Faktor kedua adalah dosis dekomposisi abu tandan buah kelapa sawit, yang memiliki empat tingkat (0, 100, 125, dan 150 g). Terdapat 16 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang tiga kali, sehingga total sampel berjumlah 48. Data dianalisis menggunakan ANOVA diikuti dengan uji rentang ganda Duncan pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada interaksi nyata pada Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), kandungan hara NPK, C-Organik, dan rasio C/N. Kombinasi terbaik dosis abu tandan kosong 150 g dan lama inkubasi hingga 4 minggu memberikan hasil terbaik untuk sebagian besar parameter yaitu KPK, Nitrogen dan C-Organik.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2314Efikasi Dosis Ecoenzyme sebagai Dekomposer terhadap Limbah Kebun Kelapa Sawit2025-12-11T08:37:18+07:00Galih Ardi Firizkiardigalih990@gmail.comHerry Wirianataherry@instiperjogja.ac.idPauliz Budi Hastutipauliz@instiperjogja.ac.id<p>Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui efikasi dosis <em>eco enzyme</em> sebagai dekomposer dengan limbah kebun kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga bulan Juli 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis bahan kompos, yang terdiri dari tiga perlakuan: 100% pelepah, 75% pelepah + 25% LCC, dan 50% pelepah + 50% LCC. Faktor kedua adalah dosis dosis <em>eco enzyme</em> yang terdiri dari tiga aras yaitu 100ml, 150ml, 200%. Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 kombinasi perlakuan, setiap perlakuann dengan empat ulangan. Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam pada jenjang 5%. Data yang menunjukkan perbedaan signifikan dianalisis lebih lanjut menggunakan uji <em>Duncan's Multiple Range Test</em> (DMRT) pada tingkat kepercayaan 5%. Parameter yang diamati meliputi: rasio C/N, penyusutan berat kompos, warna, bau, nilai pH, suhu, dan tingkat keremahan. Hasil analisis dari penelitian ini diperoleh pengomposan limbah kelapa sawit dengan efikasi dosis eco enzyme terhadap hasil analisis C/N ratio yang hanya perlakuan interaksi Pelepah 75% + LCC 25% dengan dosis <em>eco enzyme</em> 200 ml yang berhasil mencapai standar mutu pupuk organik dengan nilai C/N rasio yaitu 22,12. perlakuan Pelepah 50% + LCC 50% menunjukkan hasil paling optimal untuk parameter warna dan keremahan.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2315Pengaruh PGPR yang Berasal dari Rhizosfer Jenis Bambu yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Main Nursery pada Tanah Gambut dan Mineral2025-12-11T10:28:45+07:00Errico Irfan Januarsyah Lubisirfanerrico@gmail.comAchmad Himawanwawanhimawan2014@gmail.comAmir Noviyantoamir@instiperjogja.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh Jenis PGPR akar bambu dan Jenis tanah terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap <em>main nursery</em>. Penelitian ini dilaksanakan di KP2 Kalikuning, Desa Wedomartani, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada tanggal 18 Agustus 2025-18 November 2025 selama 12 minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan factorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah macam jenis PGPR, Kontrol, PGPR akar bambu apus, PGPR akar bambu kuning, PGPR akar bambu petung. Faktor kedua adalah jenis tanah yaitu tanah gambut dan mineral. Parameter yang diamati meliputi, pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, berat segar dan kering tajuk, panjang akar, berat segar dan kering akar, luas daun, dan volume akar. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam (Anova) pada jenjang nyata 5%, dan jika terdapat perbedaan nyata dilakukan uji DMRT pada jenjang 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis PGPR akar bambu maupun jenis tanah, serta interaksi antara keduanya, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan yang diamati. Parameter tersebut meliputi pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, berat segar dan kering tajuk, panjang akar, berat segar dan kering akar, luas daun, serta volume akar. Tidak signifikannya pengaruh perlakuan ini mengindikasikan bahwa pemberian PGPR akar bambu dengan jenis yang berbeda, pada kondisi tanah gambut maupun mineral, belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap <em>main nursery</em>.</p> <p><strong> </strong></p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2287Kajian Penggunaan Tilting Sterilizer Horizontal di Pabrik Kelapa Sawit PT OXY2025-10-01T11:30:35+07:00Muhamad Rico Ricoricomuhamad053@gmail.comMaria Ulfahulfahmaria122@gmail.comReni Astuti Widyowantireniastuti8484@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan <em>tilting sterilizer horizontal</em> lebih efisien secara teknis dan layak secara ekonomis dibandingkan dengan <em>sterilizer</em> konvensional <em>horizontal</em> pada pabrik kelapa sawit PT OXY. Data yang dianalisis meliputi tekanan uap (<em>steam</em>), kadar asam lemak bebas (FFA), rendemen CPO, <em>oil losses, </em>serta biaya operasional pabrik. Metode penelitian dilakukan dengan membandingkan performa teknis kedua jenis <em>sterilizer</em>, menganalisis pendapatan CPO yang dihasilkan, serta menghitung kelayakan investasi menggunakan pendekatan<em> break even point</em> (BEP), <em>payback period</em> (PP), dan <em>net present value </em>(NPV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan <em>tilting sterilizer horizontal</em> memberikan peningkatan kinerja yang signifikan. tekanan uap (<em>steam</em>) menurun 0,38 bar, kadar asam lemak bebas menurun 0,41%, rendemen CPO meningkat sebesar 0,76%, sementara <em>oil losses</em> menurun 0,17%. Dari sisi ekonomi, peningkatan pendapatan CPO tercatat Rp 4.924.800.000 per bulan, disertai penghematan biaya operasional hingga Rp 315.000.000 per bulan. Analisis kelayakan menunjukkan bahwa titik impas (BEP) dapat dicapai hanya dalam waktu 7 hari, periode pengembalian modal (PP) selama 8 hari, dan nilai NPV positif sebesar Rp 54.897.880.000. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan <em>tilting sterilizer horizontal</em> tidak hanya lebih efisien secara teknis, tetapi juga sangat layak diterapkan secara ekonomis. Teknologi ini berpotensi besar meningkatkan pendapatan produksi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta mendukung profitabilitas perusahaan kelapa sawit secara berkelanjutan.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2323Pengaruh Variasi Perekat Molase dan Tepung Tapioka pada Pembuatan Briket Limbah Industri Kayu Putih2025-12-15T14:56:24+07:00Faizal Suudifaizalsdi14@gmail.comHerawati Oktaviantyhera.oktavianty@instiperjogja.ac.idMohammad Prasanto Bimantiobimantiomp@instiperjogja.ac.id<p>Limbah biomassa kayu putih (<em>Melaleuca leucadendron Linn</em>.) dari industri distilasi minyak esensial dapat digunakan sebagai bahan baku briket yang berbeda. Studi ini memanfaatkan limbah dari PT Sendang Mole (2.406 ton/tahun) untuk diubah menjadi briket melalui berbagai pengikat molase dan tepung tapioka (10-20%). Tahapan penelitian meliputi persiapan bahan, proses pirolisis, produksi perekat, pengurangan ukuran arang, pencampuran bahan, pembentukan dan pengepresan, serta pengeringan briket hingga siap untuk pengujian. Dengan sembilan kombinasi perlakuan dan dua ulangan, penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap dua faktor (RAL) dengan jenis perekat (molase, tapioka, dan kombinasi) dan konsentrasi perekat (10%, 15%, dan 20%). Sesuai dengan SNI 1683:2021, parameter kualitas briket diuji. Berdasarkan hasil penelitian, perekat tapioka murni menghasilkan densitas terbaik (0,62 g/cm³) meskipun memiliki nilai kalor yang lebih rendah, sementara perekat molases murni menghasilkan nilai kalor tertinggi (5452,34 cal/g) tetapi memiliki densitas yang rendah (0,46 g/cm³). Campuran 7,5% molase dan 7,5% tapioka menghasilkan formulasi terbaik, yang memiliki densitas 0,52 g/cm³ dan nilai kalor 5119,86 cal/g. Studi ini menunjukkan kelayakan penggunaan limbah kayu putih sebagai sumber energi terbarukan meskipun tidak ada nilai kalor sampel yang memenuhi standar SNI (>6500 cal/g).</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2325Pembuatan dan Karakteristik Minuman Fungsional Popping Boba dengan Ekstrak Bunga Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L)2025-12-15T16:09:39+07:00Piterson Haohaopiterson@gmail.comErista Adisetyaerista@instiperjogja.ac.idReza Widyasaputrarezaws@instiperjogja.ac.id<p>Minuman fungsional <em>popping boba</em> merupakan produk inovatif yang dibuat menggunakan teknik <em>spherification</em>, yaitu metode untuk mengubah cairan menjadi bentuk bulat berlapis gel. Proses ini terjadi ketika natrium alginat dalam larutan bereaksi dengan ion kalsium dari kalsium laktat, sehingga terbentuk lapisan gel tipis yang membungkus cairan di dalamnya. Penelitian ini menggunakan ekstrak bunga rosella sebagai bahan utama yang dikombinasikan dengan natrium alginat dan kalsium laktat untuk membuat <em>popping boba</em>. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi natrium alginat dan ekstrak bunga rosella terhadap karakteristik kualitas <em>popping boba</em> yang dihasilkan. Penelitian menggunakan Rancangan Blok Lengkap (RBL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi ekstrak rosella (A) yang terdiri dari tiga taraf, yaitu A1 (2%), A2 (4%), dan A3 (6%). Faktor kedua adalah konsentrasi natrium alginat (B) yang terdiri dari tiga taraf, yaitu B1 (3%), B2 (4%), dan B3 (5%). Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, total perbedaan warna, pH, aktivitas antioksidan, dan kadar antosianin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel dengan perlakuan A2B1 memiliki kadar air tertinggi sebesar 91,17% dan aktivitas antioksidan terbaik sebesar 69,22%, sedangkan sampel dengan perlakuan A3B1 memiliki kadar abu tertinggi sebesar 2,60%.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECHhttps://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2291Analisa Kenaikan Asam Lemak Bebas, Perubahan Kadar Air dan Kadar Kotoran Akibat Perubahan Suhu dalam Storage Tank2025-10-06T13:23:54+07:00Ahmad Agung Dharma PutraAtengsry92@gmail.comGani Supriyantoganisupriyanto@instiperjogja.ac.idNuraeni Dwi Dharmawatinuraeni@instiperjogja.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan suhu terhadap kenaikan kadar asam lemak bebas (FFA), kadar air, dan kadar kotoran pada Crude Palm Oil (CPO) dalam storage tank di PT. Arrtu Plantations Kelampai Mill, Kalimantan Barat, selama periode Juni-Oktober 2021. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel harian dari tiga storage tank pada bagian atas, tengah, dan bawah, dianalisis menggunakan metode titrasi untuk FFA, oven terbuka untuk kadar air, dan gravimetri untuk kadar kotoran. Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa suhu memiliki hubungan negatif dengan kadar FFA, dengan pengaruh paling kuat pada Storage Tank 1 (R² = 0,6134) dibandingkan Storage Tank 2 (R² = 0,2189) dan Storage Tank 3 (R² = 0,2459). Sebaliknya, suhu menunjukkan hubungan positif dengan kadar air, terutama pada Storage Tank 1 (R² = 0,7351) dan Storage Tank 3 (R² = 0,6519), namun sangat lemah pada Storage Tank 2 (R² = 0,0091). Pengaruh suhu terhadap kadar kotoran bervariasi, dengan hubungan negatif lemah hingga sedang (R² berkisar 0,1138-0,247). Korelasi Pearson menunjukkan hubungan kuat antara suhu dengan kadar air (r = 0,916) dan kotoran (r = 0,867), namun kurang signifikan dengan FFA (r = -0,818). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian suhu penting untuk menjaga mutu CPO, dengan rekomendasi untuk menghindari penyimpanan lama dan melakukan pembersihan berkala pada storage tank.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECH