AGROFORETECH
https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM
<p><strong>AGROFORETECH</strong> merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Institut Pertanian STIPER Yogyakarta yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbing dan penguji serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor AGROFORETECH. AGROFORETECH menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari lima Program Studi, yaitu <strong>Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, dan Prodi Kehutanan.</strong></p> <p>AGROFORETECH terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu bulan <strong>Maret, Juni, September, dan Desember<br /></strong></p>INSTIPER Yogyakartaid-IDAGROFORETECH2986-8718Karakterisasi Morfologi dan Uji Daya Hasil Beberapa Genotip Mentimun Lalap (Cucumis sativus L.)
https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2726
<p>Mentimun merupakan tanaman merambat yang banyak dikembangkan secara luas di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkarakterisasi sifat morfologi tujuh genotip mentimun lalap serta membandingkan enam genotip calon varietas unggul dengan varietas pembanding yang telah dikembangkan. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan CV. Borneo Seed Indonesia, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) nonfaktorial yang terbagi kedalam empat ulangan dengan jumlah 24 tanaman pada setiap ulangan. Pengamatan ini mengealuasi sifat karakter morfologi kualitatif dan kuantitatif buah mentimun. Karakter kualitatif dianalisis berdasarkan Pedoman Pengamatan Umum (PPU) mentimun dengan acuan warna dari RHS <em>color chart</em>, sedangkan data karakter kuantitatif diolah dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% apabila terdapat perbedaan nyata antar genotip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua varietas memiliki warna daun hijau (<em>Greyish Olive Green</em>), pangkal buah berbentuk menumpul (<em>obtuse</em>), dan irisan melintang buah membulat (<em>rounded</em>). Genotip BCU-24 menunjukkan potensi hasil tertinggi dan paling mendekati varietas pembanding. Umur panen sebagian besar genotip tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding, kecuali genotip BCU-23 yang memiliki umur panen paling cepat.</p> <p><strong> </strong></p>Andhika ZainuriNeny AndayaniRyan Firman Syah
Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-09-292026-09-2943951956Respon Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elaies Guineensis) terhadap Anomali Cuaca
https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2730
<p>Fenomena <em> El Nino </em>dan <em>La Nina </em>adalah anomali cuaca yang bisa mengubah pola curah hujan sehingga berpotensi memengaruhi produktivitas kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak anomali cuaca terhadap curah hujan serta hubungan curah hujan dengan produktivitas kelapa sawit di PT. Kencana Amal Tani III. Penelitian menggunakan data sekunder periode 2015–2025 yang meliputi data suhu permukaan laut (SPL) atau <em>sea surface temperature </em>(SST), curah hujan, hari hujan, produksi tandan buah segar (TBS), berat janjang rata-rata (BJR), produktivitas, dan kejadian banjir. Analisis data menggunakan metode regresi linear sederhana dengan pendekatan <em>time lag</em> untuk mengetahui respon produktivitas terhadap perubahan curah hujan. Hasil analisis penelitian didapati bahwa <em>El Nino</em> menyebabkan penurunan curah hujan hingga 1.901 mm per tahun, sedangkan <em>La Nina</em> menyebabkan peningkatan curah hujan hingga 3.519 mm per tahun. Perubahan curah hujan tersebut berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit. Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan yang signifikan antara curah hujan dan produktivitas pada lag 0 (16 bulan) dengan nilai signifikansi 0,046 (p<0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) meningkat dari 73,19% pada lag 0 menjadi 83,22% pada lag 1 dan 87,84% pada lag 2, yang menunjukkan bahwa pengaruh curah hujan terhadap produktivitas tidak terjadi pada tahun yang sama, tetapi semakin kuat setelah 20 bulan pasca kejadian anomali cuaca. Dengan demikian, perubahan curah hujan akibat anomali cuaca terbukti memengaruhi produktivitas kelapa sawit, sehingga informasi iklim perlu dimanfaatkan sebagai dasar dalam pengelolaan perkebunan untuk mengurangi risiko penurunan produksi.</p>Ricky AlfarikyHerry WirianataBetty Yuniasih
Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-09-292026-09-2943957965Pengaruh Intensitas Penyinaran dan Volume Penyiraman terhadap Pertumbuhan Kelapa Sawit di Pre Nursery
https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2733
<p>Kondisi lingkungan, khususnya ketersediaan air dan intensitas cahaya, sangat memengaruhi keberhasilan produksi bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery. Pengaturan kedua variabel ini sangat penting untuk mendukung pertumbuhan bibit yang optimal. Dalam studi pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery ini, kami berupaya mengetahui pengaruh volume penyiraman, intensitas cahaya, dan interaksi keduanya. Penelitian ini dilaksanakan di fasilitas KP-2 INSTIPER Yogyakarta menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah intensitas cahaya yang terdiri dari tiga taraf: sinar matahari penuh, naungan jaring 50%, dan naungan jaring 75%. Faktor kedua adalah volume penyiraman harian, yaitu 50, 100, atau 150 mL per polybag. Eksperimen ini menggunakan 27 unit percobaan dengan tiga ulangan untuk setiap kombinasi perlakuan. Parameter yang diukur meliputi bobot segar dan kering akar serta tajuk, kondisi iklim mikro, kandungan klorofil, luas daun, jumlah daun, diameter batang, dan tinggi tanaman. Analisis varians (ANOVA) digunakan sebagai dasar uji signifikansi, yang mencakup DMRT pada taraf 5%. Terkait karakteristik pertumbuhan, hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antara volume penyiraman dan intensitas cahaya. Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan kondisi iklim mikro, sedangkan volume penyiraman tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter lainnya. Pertumbuhan tinggi tanaman pada tingkat naungan 50% dan 75% lebih baik dibandingkan tanpa naungan. Pemberian naungan menciptakan kondisi iklim mikro yang mendukung pertumbuhan bibit pada tahap pre-nursery. Dengan demikian, pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery lebih dipengaruhi secara signifikan oleh intensitas cahaya dibandingkan dengan volume penyiraman.</p>Mario Syalomo BarimbingBetti YuniasihElisabeth Nanik Kristalisasi
Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-09-292026-09-2943966973Epidemi Penyakit Busuk Pangkal Batang pada Perkebunan Kelapa Sawit
https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/2737
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi gejala yang disebabkan oleh penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit dan mengamati tingkat keparahan gejala penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit yang mencakup gejala dari yang ringan sampai yang parah (tanaman yang tumbang). Penelitian ini dilaksanakan Di PT. Surya Agrolika Reksa, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2026. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling (ditentukan berdasarkan blok tanaman yang memiliki indikasi serangan penyakit), yang terdiri dari 3 blok dengan total sampel setiap blok sebanyak 400 pokok, sehingga seluruhnya diperlukan 400 pkk x 3 blok = 1.200 pkk. Dengan variabel penelitian utama yaitu Insidensi penyakit (%) dan Keparahan penyakit (%) serta variabel pendukung, yaitu: Umur tanaman, Jarak tanam, Sanitasi kebun dan Kondisi lingkungan (kelembapan). Sebagai faktor lain dalam penelitian ini adalah umur tanaman, jenis varietas dan luas areal. Hasil penelitian dianalisis dengan parameter Insidensi Penyakit (IP) dan Keparahan Penyakit. Hasil penelitian menunjukkan dimana tingkat serangan yang terjadi pada H9 mencapai 28% dengan tingkat serangan 14.12% dalam kategori sedang H2 menunjukkan dengan hasil serangan terendah pada tingkat serangan 9.25% dengan intensitas penyakit 18.25% dalam kategori ringan, gejala yang tampak di lapangan antara lain daun yang berubah menjadi kuning, pelepah yang terlihat menggantung, serta tanda-tanda serangan <em>Ganoderma</em> pada beberapa pohon yaitu dengan tumbuh jamur Ganoderma.</p>Gagas Amri HafiAchmad HimawanMuhammad Fajar Sidiq
Hak Cipta (c) 2026 AGROFORETECH
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-09-292026-09-2943974979