Keanekaragaman Vegetasi Bawah pada Perkebunan Kelapa Sawit dengan Tahun Tanam yang Berbeda di PT. Gunta Samba Jaya
Kata Kunci:
Vegetasi Bawah, Tahun Tanam, KeanekaragamanAbstrak
Keanekaragaman vegetasi bawah pada tanaman kelapa sawit dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya perbedaan umur tanaman kelapa sawit. Perbedaan umur tanaman kelapa sawit akan ntensitas cahaya yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keanekaragaman vegetasi bawah di perkebunan kelapa sawit dengan tahun tanam yang berbeda. Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan tahun tanam 2007, 2012, dan 2017 di PT. Gunta Samba Jaya, Merapun Estate (MRPE), di Kampung Merapun, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, pada bulan Januari hingga Februari 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuadrat ukuran 1m x 1m, pada setiap blok diambil sampel 1 plot sampel yang mewakili 1Ha area kebun kelapa sawit, dan memiliki total 30 plot sampel untuk setiap blok. Plot sampel yang digunakan adalah kuadrat yang berukuran 1m x 1m. Analisis data menggunakan rumus indeks keanekaragaman Shanon-Wiener. Hasil penelitian menunjukkan tahun tanam yang memiliki keanekaragaman tertinggi adalah tanaman kelapa sawit muda dan yang memiliki keanekaragaman terendah adalah tanaman kelapa sawit tua. Jenis vegetasi bawah yang tahan naungan adalah Peperomia pellucida dan yang tidak tahan naungan adalah Ageratum conyzoides. Vegetasi bawah untuk ketiga tahun tanam tersebut memiliki tingkat keanekaragaman yang termasuk dalam kategori sedang yaitu dengan nilai 1 < H' < 3, dengan nilai H' masing-masing sebesar 1,96 untuk tahun tanam 2007, 2,35 untuk tahun tanam 2012, dan 2,38 untuk tahun tanam 2017. Vegetasi bawah yang memiliki nilai dominansi tinggi adalah Asytasia gangetica, Ageratum conyzoides, Peperomia pellucida, Oplimenus undulatifolius, dan Spermacoce alata, dan tidak ada spesies yang dominan
Referensi
David Tilman. (2001). Functional Diversity. Biodiversity, Ecosystem Functioning, and Human Well-Being, 10, 587–596.
Foster, W. A., Snaddon, J. L., Turner, E. C., Fayle, T. M., Cockerill, T. D., Farnon Ellwood, M. D., Broad, G. R., Chung, A. Y. C., Eggleton, P., Khen, C. V., & Yusah, K. M. (2011). Establishing the evidence base for maintaining biodiversity and ecosystem function in the oil palm landscapes of South East Asia. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 366(1582), 3277–3291. https://doi.org/10.1098/rstb.2011.0041
Gaston, K. J. (2000). Global patterns in biodiversity. www.nature.com
Gilbert. (2017). Effects of tropical forest management on species composition and structural attributes of understorey vegetation. 401, 77–88.
Magurran. (2004). Measuring Biological Diversity. Blackwell Science.
Martin Kent. (2011). Vegetation Description and Data Analysis a Practical Approach.
R. H. V., C., & P. B., T. (2015). The Oil Palm. Wiley Blackwell.
Rembold, K., Mangopo, H., Tjitrosoedirdjo, S. S., & Kreft, H. (2017). Plant diversity, forest dependency, and alien plant invasions in tropical agricultural landscapes. Biological Conservation, 213, 234–242. https://doi.org/10.1016/J.BIOCON.2017.07.020
Shannon, & Weaver. (1949). The Mathematical Theory of Communication. University of Illinois Press.
Yusuf, Widaryanto, & Sisworo. (2018). Peran Asystasia gangetica sebagai tanaman penutup tanah dalam pengelolaan kebun kelapa sawit. 12(1), 45–52.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Citation Check
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 AGROFORETECH

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


